Lanjutan dari klik
Tanggal 9 Juli merupakan hari keempat di kota Vichy. Seperti biasa, pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke Cavilam. Aku berjalan kaki dari rumah ke sana, maklum tidak angkot atau ojek. Di teras Cavilam, tempat orang Indonesia berkumpul, kami sibuk bercerita tentang pengalaman tinggal di rumah orang Prancis. Aku termasuk yang beruntung bila dibandingkan teman-temanku karena diperbolehkan mandi, dan melakukan apa saja sesuai kebiasaanku di Indonesia, kecuali makan dengan alasan mengenal makanan Prancis. Ada lho … temanku yang tidak boleh menggunakan air untuk mandi, alasannya penghematan, kasihan dech … tapi dia tertolong oleh udara di Prancis. Kita sama sekali tidak mengeluarkan keringat padahal matahari lumayan panas, buktinya semua orang Indonesia selalu berteduh. Maklum sudah banyak menerima panas di Indonesia. Pagi ini kami melanjutkan pelajaran sesuai topik yang kita pilih.
Di kelasku, hanya aku sendiri orang Indonesia, ada untung ada rugi. Untungnya aku jadi berusaha berkomunikasi dalam bahasa Prancis. Ruginya, sedih aja jika tidak mengerti bahasanya mo tanya ke siapa, ke gurunya !? yah.. dijelaskan dalam bahasa Prancis juga, bisa-bisa bingung. aku pikir biarlah berlalu… kan aku dapat ilmunya.
Siang harinya, direncanakan akan ke gunung Puy-de-Dôme, bila tidak hujan. Jika hujan kegiatan ini akan diganti dengan mengunjungi kota Clermont-Ferrand. Sebelum berangkat, kami dikumpulkan di aula Cavilam karena ada penyajian dari Penerbit buku FLE (Français Langue Etranger) tentang buku-buku pelajaran bahasa Prancis. Cuaca sangat cerah, selesai paparan dari penerbit buku FLE, artinya kami jadi jalan-jalan ke Puy-de Dôme dan kami segera bersiap-siap berangkat ke gunung. Sebuah bus untuk mengantar ke kaki gunung, sudah menunggu kami. Tepat pukul 14.00 kami berangkat.
Kami diturunkan di kaki gunung. Sebelum melaksanakan napak tilas kami diberi penjelasan terlebih dahulu. Katanya jalur yang akan kita lewati merupakan jalur tentara romawi. Beberapa teman tidak mau ikut ke atas gunung… capek katanya.
Akhirnya kita memulai perjalanan dan meninggalkan beberapa teman di titik keberangkatan. Sedangkan bus bersiap untuk kembali.
Jalan yang kita tempuh, berkerikil dan berkelok-kelok. Lelah juga berjalan menuju puncak tapi aku tetap bersemangat. Semangat bertambah setelah melihat orang India. Dia memakai sepatu hak tinggi dan baju tradisionalnya. Jalannya gagah meskipun perempuan. Aku ? sekali dua, aku berhenti untuk tarik napas (istirahat) dan melihat pemandangan di dataran tinggi. Pemandangannya sangat indah… benar lho. Sayang, kalau dilewatkan untuk diphoto. Selama perjalanan orang Indonesia saling memberi semangat dengan mengatakan di puncak, ada tukang ronde, bajigur, dan lain-lain, bahkan sampai tukang minuman (pedanggang asongan) yang dapat dijumpai di setiap perempatan, juga disebut-sebut.
Betapa terkejutnya kita ketika sampai di atas (titik akhir), melihat mobil dapat mencapai tempat tersebut. Yaaa… capek-capek jalan ternyata mobil juga sampai atas. Tak apalah… hitung-hitung olah raga…dan menguruskan badan.
20 menit, kami di sana, kemudian kami harus kembali ke titik awal. Wow … betapa senangnya hati ini ketika mau turun, kita dipersilahkan naik mobil. Mobilnya ada satu yang stand by dan tanggung ukurannya jadi…dech kita dibagi dua rombongan. Wach… akan lama kita menunggu mobil datang. Rombongan pertama berangkat, tiga menit kemudian datang mobil yang sama. eeh.. ternyata mobil sejenis banyak jumlahnya (lebih dari dua). Akhirnya kita turun dengan duduk santai di dalam mobil, jika tidak, tak terbayang akibatnya… tidak ada tukang pijat.
Sampai di bawah, ternyata kita diturunkan di tempat yang lain (bukan titik keberangkatan) maklum rutenya khan … beda. Nah…khan, kita tidak dapat menemukan teman-teman yang tidak ikut ke atas. Pendamping kita sebagai pemimpin rombongan memutuskan untuk menunggu teman-teman di sini, sedangkan dia akan menjemputnya. Ditunggu-tunggu…akhirnya datang juga, suasana jadi ramai. Kemudian, kita langsung pulang.
Sore ini acara bebas, sebenarnya aku ingin jalan-jalan lagi untuk mengenal lebih dekat kota Vichy, tapi kaki ini tidak mau kompromi. yach… terpaksa, aku tinggal di rumah, istirahat sendiri. Ibu kostku sibuk dan pulang malam sedangkan paginya aku berangkat, ibu kostku di kamarnya (masih tidur kali). Ada baiknya memang karena besok, kegiatannya lebih seru lagi… makanan, mencicipi masakan daerah.
bersambung ke klik.
Filed under: Cerpen, Vichy , Art, aventure, Bahasa, cerita, Cerpen, objek wisata, pengalaman, wisata









[...] « Newer Older » [...]
Pemandangannya bagus… ya ?