FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Terampil Berwacana, Terampil Berbahasa

Di Indonesia penggunaan kata wacana telah merambah ke dalam kehidupan sehari-hari. Apakah yang dimaksud dengan wacana ? Untuk mempelajari wacana apalagi menganalisisnya sangat diperlukan kemampuan berkomunikasi karena analisis wacana adalah telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa dengan menggunakan dasar ilmu bahasa (linguistik). Kalau berbicara mengenai pragmatik maka secara implisit kita pun berbicara tentang wacana. Pendapat para ahli agak berbeda tentang hal ini, mulanya ahli linguistik menyatakan bahwa satuan bahasa yang terbesar adalah kalimat. Satuan-satuan itu adalah fonem, morfem, frasa, klausa dan kalimat. Kemudian mereka menemukan adanya wacana, dan sejak itu cabang ilmu linguistik berkembang dengan pesat sehingga penstrukturan formal dalam bahasa tidak berakhir pada kalimat karena satuan-satuan bahasa secara linguistik mempunyai urutan dari yang terkecil sampai yang terbesar sebagai berikut : (1) fonem, (2) morfem, (3) kata, (4) frase, (5) klausa, (6) kalimat, dan (7) wacana. Setiap bahasa mempunyai beberapa tipe wacana yang berbeda, antara lain : (1) narasi, (2) konversasi, (3) komposisi, (4) deklamasi, dan (5) puisi. Tetapi ciri-ciri formal yang memberi ciri setiap tipe tersebut dalam berbagai bahasa kerap kali amat berbeda. (Nida, 1964 : 240). Hal ini tergantung kepada empat tujuan penggunaan bahasa, yaitu : (1) ekspresi diri sendiri, (2) eksposisi, (3) sastra, dan (4) persuasi. (Landsteen, 1976:111-112; Tarigan, 1985:16-17). Dalam salah satu kamus bahasa Inggris yang terkemuka, mengenai wacana (discourse) ini kita dapat membaca keterangan sebagai berikut :

  1. Komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi ide-ide atau gagasan; konversasi atau percakapan.
  2. Komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subjek studi atau pokok telaah.
  3. Risalat tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khotbah. (Webster, 1983:522).

Dari sekian banyak pengertian tentang wacana, akan dikemukakan satu saja. Wacana adalah satuan bahasa yang komunikatif. Ini berarti bahwa wacana harus mengandung suatu pesan yang jelas dan bersifat otonom, dapat berdiri sendiri. Pemahaman suatu teks didukung oleh pengujarannya, jadi situasi komunikasi dapat mempengaruhi makna wacana. Wacana tidak tersusun dalam bentuk yang pasti, dapat terdiri dari satu kata saja, satu kalimat, satu paragraf, satu artikel, satu buku, bahkan kadang-kadang juga satu bidang ilmu, seperti wacana sastra, wacana politik, dan lain-lain. Contoh : kata toilettes di depan pintu atau kata pull dan push di sebuah pintu, sudah dapat disebut wacana, karena sudah memberikan suatu pesan yang jelas, sudah komunikatif. Jadi, dapat dikatakan bahwa :

Wacana adalah : Ujaran + Pengujarannya

atau dapat juga dikatakan bahwa :

Wacana adalah : Ujaran + Situasi komunikatif

Meskipun hanya terdiri satu kata, Toilettes sudah dapat dikatakan wacana, karena dengan bantuan situasi komunikasinya, kata itu sudah membawakan pesan yang jelas.

Untuk mempelajari wacana, terlebih dahulu perlu diketahui tentang teori komunikasi, baik unsur-unsurnya maupun jalannya komunikasi. Berikut ini akan dikemukakan bagan komunikasi :

Unsur-unsur komunikasi :

  1. Pengirim adalah yang menyampaikan pesan, dapat terdiri dari satu orang (individu), satu kelompok orang, misalnya suatu perusahaan, institusi atau pemerintah.
  2. Penerima adalah yang menerima pesan, dapat terdiri dari satu orang, khalayak ramai, kelompok tertentu, binatang maupun mesin.
  3. Acuan adalah sesuatu yang diacu oleh pesan yang disampaikan pada penerima. Acuan dapat berupa benda, orang, situasi maupun konteks.
  4. Pesan adalah objek komunikasi, terdiri dari serangkaian informasi yang disampaikan.
  5. Saluran komunikasi adalah sarana lalu lintasnya komunikasi, kadang-kadang cukup dengan indera manusia (komunikasi langsung), kadang juga menggunakan alak teknik. Pesan dapat disampaikan melalui penglihatan, misalnya tulisan, gambar, film, foto dan seterusnya. Pesan dapat juga disampaikan melalui pendengaran, seperti suara manusia, telepon, musik, dan lain-lain.
  6. Kode adalah keseluruhan tanda dan aturan-aturan kombinasinya. Kode harus berdasarkan konvensi agar dapat dipahami oleh penerima.
  7. Umpan balik yaitu reaksi dari Penerima dari pesan yang disampaikan dan mengirimkan kembali gagasan yang diterimanya. Dan apabila umpan balik yang dikirimkan sama arti atau maksud yang diinginkan oleh Pengirim, maka dikatakan pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik.

Demikianlah komunikasi menjadi dasar kehadiran wacana.

Wacana merupakan satuan yang terlengkap dan terbesar di atas kalimat atau klausa dengan kepaduan (kohesi) dan kerapian (koherensi) yang berkesinambungan, yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis. Kepaduan makna dan kerapian bentuk merupakan faktor penting untuk menentukan tingkat keterbacaan dan keterpahaman wacana. Kepaduan dan kerapian merupakan unsur hakikat wacana, unsur yang turut menentukan keutuhan wacana.

Kohesi mengacu kepada aspek bahasa (language), dan koherensi kepada aspek ujaran (speech). Aspek bahasa menggambarkan bagaimana caranya proposisi-proposisi saling berhubungan satu sama lain untuk membentuk suatu teks; sedangkan aspek ujaran yang menggambarkan bagaimana caranya proposisi-proposisi yang tersirat disimpulkan untuk menafsirkan tindak ilokusi dalam pembentukan suatu wacana.

Kohesi merupakan wadah kalimat-kalimat disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan. Hal ini berarti pula bahwa kohesi merupakan hubungan antar kalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu (Gutwinsky, 1976:26). Suatu wacana benar-benar bersifat kohesif apabila terdapat kesesuaian secara bentuk bahasa (language form) terhadap ko-teks (situasi-dalam bahasa; sebagai lawan konteks atau situasi-luar bahasa). Dengan perkataan lain, ketidak sesuaian bentuk bahasa dengan koteks dan juga dengan konteks, akan menghasilkan teks yang tidak kohesif (James, 1980:103-104).

Dalam bahasa Inggris, dua orang pakar -Halliday dan Hasan- pada tahun 1976 telah mengemukakan sarana-sarana kohesif yang terperinci dalam karya mereka “Cohesion in English”. Mereka mengelompokkannya ke dalam lima kategori, yaitu :

a. Pronomina (kata ganti). Kata ganti terdiri dari :

  1. Kata ganti diri dalam bahasa Indonesia adalah saya, aku, kita, kami, engkau, kamu, kau, kalian, Anda, dia, dan mereka.
  2. Kata ganti penunjuk dalam bahasa Indonesia adalah ini, itu, sini, situ, dan sana.
  3. Kata ganti empunya dalam bahasa Indonesia adalah -ku, -mu, -nya, kami, kamu, kalian, dan mereka. Bentuk-bentuk -ku, -mu, -nya disebut juga bentuk enklitis.
  4. Kata ganti penanya dalam bahasa Indonesia adalah apa, siapa, dan mana.
  5. Kata ganti penghubung dalam bahasa Indonesia adalah yang. 6) Kata ganti tak tentu dalam bahasa Indonesia adalah siapa-siapa, masing-masing, sesuatu, seseorang, dan para.

b. Substitusi (penggantian). Substitusi adalah proses atau hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu (Kridalaksana, 1984:185). Substitusi merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Substitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal, atau campuran; misalnya : satu, sama, seperti itu, sedemikian rupa, demikian, begitu, dan melakukan hal yang sama.

c. Elipsis. Elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang ujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Kridalaksana, 1984:45). Elipsis dapat pula dikatakan penggantian nol (zero) ; sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan. Hal ini dilakukan demi kepraktisan. Elipsis dapat pula dibedakan atas elipsis nominal, elipsis verbal, dan elipsis klausal.

d. Konjungsi. Konjungsi adalah yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau paragraf dengan paragraf (Kridlaksana, 1984:105). Konjungsi dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas :

  1. Konjungsi adversatif : tetapi, dan namun.
  2. Konjungsi klausal : sebab, dan karena.
  3. Konjungsi koordinatif : dan, atau, dan tetapi.
  4. Konjungsi korelatif : entah/entah, dan baik/maupun.
  5. Konjungsi subordinatif : meskipun, kalau, dan bahwa.
  6. Konjungsi temporal : sebelum, dan sesudah.

e. Leksikal. Kohesi leksikal diperoleh dengan cara memilih kosa kata yang serasi. Ada beberapa cara untuk mencapai aspek leksikal kohesi ini, antara lain :

  1. Pengulangan (repetisi) kata yang sama : pemuda-pemuda.
  2. Sinonim : pahlawan – pejuang.
  3. Antonim : putra – putri.
  4. Hiponim : angkutan darat – kereta api, bis.
  5. Kolokasi : buku, koran, majalah – media massa.
  6. Ekuivalensi : belajar, mengajar, pelajar, pengajar, pengajaran.

Demikianlah mengenai kohesi dan selanjutnya kita membicarakan koherensi wacana.

Koherensi merupakan kontinuitas pikiran dalam teks. Koherensi termasuk wilayah semantik wacana, dasar koherensi ini adalah interpretasi atas masing-masing kalimat yang dihubungkan dengan interpretasi kalimat-kalimat lainnya. Jadi interpretasi sebuah kalimat tidaklah terisolasi, melainkan juga tergantung pada konteksnya. Hal-hal yang menentukan koherensi sebuah wacana :

  1. Adanya kontinuitas konsep dan relasi yang dapat dipahami dan relevan. Konsep adalah konfigurasi pengetahuan yang dapat diperoleh atau diaktifkan dengan sedikit banyak kesatuan dan konsistensi dalam pikiran. Sedangkan relasi adalah hubungan antar konsep yang tampil bersama dalam dunia teks (de Beaugrande, 1981). Charolles dalam artikelnya “Introduction aux problèmes de la cohérence des textes” juga menyatakan bahwa perlu ada hubungan antara fakta yang ada dalam teks dengan dunia yang ditampilkannya. Oleh karena itu sebuah wacana dikatakan koheren apabila ada pertalian makna di dalamnya.
  2. Adanya perkembangan (progression). Agar sebuah teks dianggap koheren, baik secara macrostructure (tahapan kalimat) maupun microstructure (tahapan klausal). Perkembangan itu harus disertai dengan adanya penambahan unsur semantik yang selalu diperbaharui. Hal ini akan tampak baik urutan kalimat apabila susunan kalimat tidak tepat, maka perkembangan teks akan terganggu.
  3. Tidak boleh ada kontradiksi dalam wacana, sehingga wacana itu dapat dianggap koheren. Suatu wacana tidak boleh mengandung pertentangan antara suatu unsur semantik dengan isi yang terdapat di bagian lain wacana itu, baik yang ditampilkan secara eksplisit maupun yang berupa pengertian implisit. Dalam hal ini, urutan kalimat yang tidak tepat juga dapat memancing adanya kontradiksi.
  4. Identitas individual. Yang dimaksud dengan “individual” bukan hanya mengacu pada manusia, tetapi juga pada binatang, bahkan pada benda. Dalam suatu wacana, identitas individual berhubungan dengan konsep. Hubungan antara konsep dan identitas individual adalah cakupan, keanggotaan, sebagian-keseluruhan dan kepemilikan. Misalnya, ruang merupakan bagian dari kantor, meja adalah bagian dari ruangan, sedangkan surat-surat, buku, alat tulis dan komputer merupakan benda-benda yang termasuk dalam “dunia kantor”. Identitas individual dan konsep dihubungan oleh kata kerja yang biasanya disebut predikat. Demikianlah keterkaitan antara satu unsur bahasa dengan yang lain dalam wacana koheren.
  5. Seleksi. Suatu wacana tidak perlu lengkap dalam menguraikan semua peristiwa yang mendukung atau fakta yang membentuk suatu situasi tertentu ditampilkan karena hal itu tidak praktis dan secara pragmatik pun tidak dianggap baik. Oleh karena itu bila tidak relevan tak perlu diutarakan semua.

Demikianlah mengenai koherensi.

Kita menggunakan bahasa dalam kesinambungan atau untaian wacana. Kadang-kadang dari segi bentuk terlihat kerapian hubungan, tetapi dari segi makna terasa janggal. Oleh karena itu, keutuhan suatu wacana ditetukan pula oleh kelogisan; kelogisan bentuk dan kelogisan makna dalam wacana. Kelogisan makna menuntut kecermatan dalam pemakaian bahasa. Cermat memakai bahasa berarti dapat menyampaikan pesan dengan tepat. Selain itu, tanpa konteks, tanpa hubungan-hubungan wacana yang bersifat antar kalimat maka kita sukar berkomunikasi dengan tepat satu sama lain

Melalui wacana kita dapat saling : menyapa, menegur, meminta, memohon, menyetujui, menyepakati, bertanya, meminta keterangan, meyakinkan, menyuruh, memerintah, mengeritik, mengomentari, memaafkan, mengampuni; dan lain-lain. Dengan demikian kita dapat terampil berwacana berarti kita terampil menyimak wacana, terampil berbicara dengan wacana, terampil membaca wacana, dan terampil menulis dalam bahasa Indonesia/asing yang baik dan benar.

Source : Drs. R. Okta Kurniawan, MM. , Warta Dephan RI No. 97 Th. XIV edisi September – Oktober 2002.

About these ads

Filed under: Bahasa, Diklat, , , , , , , , ,

7 Responses

  1. Fahmy Al Muwallid mengatakan:

    mas brow your article is very good. it makes me understand what discourse means. thanks alot……………..

  2. fajrin nur hidayat mengatakan:

    Terima kasih atas sharing Ilmu nya Bung **

  3. yuniar ayu mengatakan:

    trimakasih dg informasi pengetahuan mengenai wacana yang disajikan, byk bahan@ yang saya pakai dalm mempermudah mnyelesaikan tugas kuliah saya dalam materi wacana.

  4. proglap mengatakan:

    tulisan yang mengugah… untuk berwacana

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 957 pengikut lainnya.

Halaman

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 957 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: