Ringkasan Cerita #6
Elsa memberikan amplop kepada Tris. Setelah selesai mengajar Tris membacanya hingga dua kali. Tulisan Elsa yang berupa sajak “tukang beca” membuat Tris tercenung untuk mencari apa yang tersirat di balik tulisan itu.
…
Ada seminggu Tris berdiam diri. Sekian lama, ia merasakan kehambaran hidup ini. Hari-hari mengajar dilewatinya dengan hati kosong. Gema yang bergelombang hidup dalam dadanya telah bubar. Tak ada lagi gemuruh di situ. Memandang wajah Elsa di saat kegiatan belajar mengajar berlangsung hanya menimbulkan muak saja. Tidak menarik lagi. Tidak seperti sebelumnya. Soalnya, sebelumnya itu ada gairah, karena ada yang mengikat. Rasa. Rasa itu sekarang sudah pergi bersama tukang beca. Kelasnya yang menjadi korban. Korban kepatahannya. Korban dendamnya. Predikat tukang beca benar-benar menimbukan akibat fatal bagi hidupnya, bagi karirnya sepanjang 20 tahun sebagai pembina pelajar. Alangkah tidak berartinya ia di pandangan Elsa. Tukang beca ! Selalu memburunya !
Seperti biasa, angin-anginan, Elsa tak juga mendekat. Ada kesibukan sendiri. Beruntun kesibukan itu menumpuki dirinya. Dari persiapan-persiapan pengisian PMDK sampai latihan-latihan tes, try out untuk UN dan SPMB atau Penmaba. Kian jauh jarak itu terentang.
Tris masih uring-uringan. Juga masih uring-uringan ketika Bu Wien dan Bu Rismauli Gultom menggelitiknya.
~ ”Bagaimana Pak Tris ? Tampaknya ada perubahan total pada diri Elsa.”
~ ”Iya lo ! Sekarang lebih tampak manisnya. Tidak bertopeng diri lagi. Tampak lebih terbuka.”
~ ”Dasar brengsek ! Persetan mau jadi apa itu anak !”
Ah ! Kedua guru putri itu tersentak. Ada yang ganjil dalam ucapan Tris. Kini kian serius.
~ ”Ada apa sebenarnya Pak Tris ?”
Tris membanting kertas puisi Elsa di meja. Bu Rismauli meraih kertas yang terlipat itu. Membukanya, membaca, diikuti Bu Wien.
~ ”Lo, ini gimana sih ?”
~ ”Aneh juga ya anak ini !?”
~ ”Berani amat !”
~ ”Ya beraninya itu.” Tris diam saja.
~ ”Tidak tenggang rasa.” Bu Wien menambah terus. Tris diam saja.
~ ”Belum bisa ia menjaga perasaan orang lain.” Bu Rismauli ikut menambah lagi.
Tris diam saja. Bu Sri nyelonong masuk. Tertarik ia pada kelompok kecil yang dirasanya aneh. Tampak dari jauh lucu. Tris sedang diomeli Bu Rismauli yang gagah sambil menunjuk-nunjuk meja Tris. Di situ ada kerta terbentang. Di situ ada puisi menantang. Bu Sri tertarik, diambilnya, dibacanya, tersenyum.
~ ”Boleh sumbang pendapat ?” Semua memandang Bu Sri. ”Puisi yang bagus.” Semua kaget. Bu Sri guru Geografi. ”Harusnya Pak Tris bahagia.” Semua kaget. Tris terutama. ”Pak Tris tersinggung ya… baca ini ?”
~ ”Iya dong !”
~ ”Kan keterlaluan itu !”
Tris diam saja.
~ ”Kalau Pak Tris tersinggung, apalagi marah, benar-benar belum mengenal hati wanita.”
Tambah berdenyut kepala Tris. Tambah heran Bu Wien dan Bu Rismauli. Bu Sri meletakkan kertas itu. Bu Wien dan Bu Rismauli merasa perlu tahu.
~ ”Bu Sri ini ada-ada saja. Kok bisa begitu ?”
~ ”Apa hubungannya dengan tulisan itu ?”
Bu Sri tertawa, menghindar, meninggalkan Tris diikuti Bu Wien dan Bu Rismauli.
~ ”Orang yang kelewat kangen memang begitu. Tiang listrik juga dikira si dia.” Bu Wien dan Bu Rismauli akhirnya tertawa.
~ ”Pengalaman Bu Sri ?”
~ ”Lah,… coba saja renungkan. Ini sembang pendapat loo. Setidak-tidaknya menjadi bahan masukkan yang berarti”
Ketiganya pergi. Tinggallah Tris.
Sendiri.
Filed under: Bahasa, Cerpen, Curhat , arts, Bahasa, Cerpen, Curhat, Etika, faites comme chez vous, guru, IBSN, kasih, moral, NaBloPoMo09, pelajaran, pendidik, sayang








mas dapet award dari saya diterima yah
http://newbiedika.wordpress.com/2009/06/26/baru-dikerjain-sekarang-pr-nya/
ini cerpen tho mas???
Tidak mahu komen tentang kisah di atas… mahu menyatakan pengharagaan atas ruang paparan di laman ini sungguh indah, menyenangkan dan tampak bersih sekali. malah punya campuran warna yang menceriakan. Salam gembira dari saya.
[...] Older » [...]
masih ada lanjutannya??
capek juga bacanya… hihihi (gak dibaca, numpang komen aja
)
sastra modern..bisa dibilang…
nice post btw…and harap ada the next-nya neh
aku nunggu tamat juga deh.. btw nice emotional logging..
jd keingat dulu ama wali kelas.. getol banget nyuruk ikut pmdk ampe mo dibeliin formulir segala
hehehe.. cerita pendeknya bagus sekali yaaa
Salam Sayang
cerita ini punya nilai seni tinggi menurut saya.. masih ada sambungannya to?
selamat malam bang
blue selalu mendukung postingan abang
salam hangat selalu
mantabe
banget dech
and ad post baru tuh d blog gw…
blog gw masih idup…
hallo mas cenya…..
lanjut deh…
lanjuttt…
selama belum ada ending, belum bisa kasih komen, nih. soale masih meraba-raba…
pa guru tersyang waktu di SMA yaitu Papi biasa aku panggil dia guru ekonomi..
jadi kangen..
btw Mas cenya
kenanga mau pamit nih..
harus menjalani tugas istana
kalo ada salah tolong dimaafkan yah..
[...] Berlanjut … [...]