Merasa diancam seperti itu (baca di sini) saya mengalah, oleh karena itu akhir cerita saya ubah menjadi begini :
”Elsa lulus UN dan SPMB. Kagum dan kolokannya pada Tris ternyata membakar dirinya. Tak mampu lagi, ia menghindar dari bayang-bayang Tris yang selalu mendekapnya dimana-mana. Hari-hari dilaluinya dengan kebahagiaan yang meluap-luap karena ia tahu tidak bertepuk sebelah tangan. Memang, Tris ternyata juga tak mampu lagi melepaskan diri dari Elsa yang cantik dan ceria itu. Cinta telah tumbuh dan bersemi. Keduanya lalu sering bertemu, memadu kasih. Di luar jam-jam mengajar Tris selalu meluangkan waktu untuk mengecap kebahagiaan hidup bersama Elsa. Ke Ancol pada malam-malam yang terasa selalu indah, walau hujan sekalipun. Kan ada Elsa ? Kan ada Kijang Komando ? Peduli amat dengan hujan !
Ah, keindahan hidup yang tak habis-habis direguh ! Tris tetap romantis. Mampu ia melambungkan Elsa ke awan yang melayang-layang di angkasa. Elsa merasakan semua itu dengan seluruh jiwa raganya. Hari Minggu yang selalu mempesona, berbimbingan tangan di hutan-hutan cemara kawasan Puncak, memadu kasih dengan gejolak cinta yang membahana, diharmonisi desah daun-daun cemara dan cericit burung-burung yang bernyanyi riang ikut merestui terpadunya dua hati yang berjarak 48 – 18 = 30 tahun itu. Tak habis-habisnya keindahan itu direguh dalam hari-hari yang terasa cerah selalu. Elsa telah mendampingi hidup Tris. Ia bahagia. Ia tak mau tahu istilah istri kedua. Ia teramat bahagia menerima limpahan cinta kasih Tris yang terasa tak pernah surut itu !”
Tunggu ! Tiba-tiba saja nyelonong nuraniku menyergap.
~*~ ”Ini tidak paedagogis ! Ini Tidak didaktis ! Ini tidak mendidik !”
~ ”Loo..”
~*~ ”Iya, Tris kan guru ! Guru harus bisa diteladani. Sembarangan saja !”
~ ”Kan… dulu juga ada Kepala Sekolah di sebuah SMU meni…”
~*~ ”Stop ! Biar ! Itu kan berita saja.”
~ ”Loo..”
~*~ ”Biar ada faktanya kan Cuma berita.”
~ ”Loo..”
~*~ ”Terus saja loo ! karyamu ini kan cerita. Jadi lain. Kalau bikin cerita harus mendidik ! Ceritamu ini kan mendorong dekadensi moral !”
~ ”Loo… ini maksudnya juga mendidik.”
~*~ ”Hus ! Mendidik atau memberikan contoh ?”
~ ”Loo… Film-film cerita yang dibikin dengan bumbu paha dan selangkangan…, dan dada…, dan ranjang…, dan rintihan…, dan cantik-cantik itu ?”
~*~ ”Hus ! Kalau itu lain ! Itu maksudnya dibuat untuk remaja, untuk generasi muda. Itu sebuah contoh. Begitu lo jadinya kalau orang itu begitu. Jadi generasi muda jangan berbuat begitu, nanti bisa jadi begitu. Jadi mendidik.”
~ ”Maksud saya cerita saya ini juga begitu. Supaya jangan ditiru. Jadi mendidik !”
~*~ ”Hah ! Jangan mengada-ada. Pokoknya tidak rasional !”
~ ”Kalau film yang judulnya …”
~*~ ”STOP ! Kalau film lain ! Film memang digarap sedemikian rupa supaya menarik. Coba perhatikan baik-baik film itu. Ada gadis cantik, anak tunggal orang kayaaaaaaa sekali. Ketika berlibur di villanya yang mewah dijumpai seorang kere.”
~ ”Tapi cakep.”
~*~ ”His, jangan memotong ! Karena tersentuh rasa manusiawinya, ya ditolongnya kere itu. Disuruh mandi, diberi pakaian, disuruh cukur, …”
~ ”Ganteng kan ? Karena ganteng lalu jatuh cinta kan ? Karena jatuh cinta lalu kawin kan ? Lalu hidup bahagia kan ? Lalu adegan ranjang kan ? Bagaimana kalau anak-anak muda itu kita suruh saja jadi kere semua, lalu mengelepak di depan villa-villa sana ? Bagaimana ? Loo, kok diam ? Mengapa diam, Nuraniku ? Jawab ! Nuraniku, dengar. Saya memang akan mencabut set akhir cerita Tris kawin dengan Elsa. Saya coret ! Tetapi bukan karena takut dicap tidak didaktis. Bukan ! Film-film yang mengumbar selangkangan dan adegan-adegan ranjang yang bisa merangsang telapak kaki saja dibiarkan kok. Ada alasan lain yang mendorong saya untuk mengubah set akhir cerita itu. Sudah saya timbang-timbang set akhir cerita itu.”
Saya bergidik sendiri. Soalnya begini … Istri saya, seperti biasanya, senang membaca apa yang saya tulis. Sebelum akhir cerita ini ada, ia sudah membaca naskah ini. Apa katanya ?
~ ”Mas, bisa deh Mas itu memberikan perhatian dan kasih sayang pada orang lain. Romantis. Ngangeni. Saya bangga. Mas, hebat !”
Anda senang mendengar omongan itu ? Kalau Ya, gawat ! Itu kalimat bersayap, tahu ? Kalimat itu memang berhenti sampai di situ. Tetapi, otak kita ini wajib curiga. Harus mampu kita menyusun lagi lanjutannya. Karena saya sudah biasa curiga maka otak saya langsung menambahkan kalimat lanjutannya : ”Tetapi, perasaan saya dulu Mas tidak seperti itu kepada saya.” Bagaimana ? Ngiri kan jadinya. Gawat tidak ?
Saya ngeri kalau ia membaca akhir cerita Tris dan Elsa itu begitu. Terus terang ia tidak peduli apakah itu cerita atau beneran. Pokoknya hatinya selembut sutera. Mudah sobek. Susah menjahitnya. Pernah saya nasihati.
~ ”Kau bisa membayangkan bagaimana perasaan suami Maria S. Sardjono kalau membaca tokoh wanitanya diuyel-uyel di Ancol oleh tokoh pria ?” Apa jawabnya ?
~ ” Lah…, itu kan cerita saja.”
Nah, kan ! Artinya ia memang belum siap untuk menerima saya ini sebagai sesuatu yang bukan sebenarnya. Saya harus seperti apa adanya. Maka demi keselamatan bersama, dan sekalian ingin menjewer kuping Tris yang tampak sok percaya diri, sedikit menyombong, sok baik, sok selalu menang itu, saya akan rubah akhir ceritanya. Pendek saja mungkin.
Filed under: Cerpen, Jurnal , Art, cenya, Cerpen, Curhat, Etika, faites comme chez vous, guru, IBSN, Informasi, Jurnal, moral, NaBloPoMo09, pendidik








wah, keren yah.. nulis cerita sampai beradu dengan nurani,, yosh, demi keselamatan bersama
Teruskanlah sobat, teruskanlah apa yang jadi maumu, akan jadi mauku juga, ^_^…V
wuh akhirnya???
Wah, ceritanya menarik
diuyel-uyel tuh yang pipi kayak dicubit-cubit gitu kan?
diuyel2 itu sebagai ending sementara kan,biasanya ada di uyel2 babak berikutnya.
maju terus
salam
wah..wah..ternyata seperti ini akhirnya…tapi ops..masih berlanjut kah…?waduh panjang juga
Cerbung deh jadinya..:lol:
teu nyangka mas octa tiasa nyarios sunda oge, kagum abdi mah, salut, hehehe… salam super hangat deui kang. hatur nuhun kasumpinganana di cantigi. mangga ah.. ^_^
Wah.. Ini ending ceritanya ya..?
bukan, masih berlanjut …