Dengan mimpi, kita dapat mengakses dunia yang memperantarai realita dan abstrak. Di dunia psikologi, mimpi sangat membantu dalam memecahkan masalah. Menurut Sigmund Freud, mimpi adalah penghubung antara bangun dan tidur. Mimpi adalah ekspresi dari keinginan terlarang dan diungkapkan dalam keadaan terjaga. Mimpi diidentifikasikan sebagai ungkapan yang dipikirkan seseorang. Sementara itu, menurut Ibn Arabi, mimpi diidentifikasikan sebagai bagian dari imajinasi. Imajinasi adalah tempat penampakan wujud spiritual, tempat memperoleh bentuk dan figur-figur seseorang. Kecakapan imajinasi ini selalu aktif. Dalam keadaan tidur, imajinasi terbangun/terbentuk.
Padahal mimpi juga memiliki manfaat, Pertama; sebagai pemenuhan keinginan terlarang Kedua; sebagai sumber ilmu maupun risalah kenabian.
Pada dasarnya hakikat mimpi adalah seseorang secara tidak sadar berusaha memenuhi hasrat dan menghilangkan ketegangan dengan menggambarkan tujuan yang ingin dicapai.
Freud mengkategorikan hanya satu jenis mimpi, mimpi kanak-kanak, karena pada tahun-tahun berikutnya akan ditemukan mimpi yang sama sehingga dapat memberikan informasi dan dapat digeneralisasi sebagai acuan tahapan-tahapan psikoseksual dalam teori kepribadian.
Ibn Arabi mengkategorikan mimpi menjadi tiga; Pertama, mimpi yang berhubungan dengan kejadian sehari-hari dari orang tersebut mengirimkan ke hati yang merefleksikan dan membesarkannya. Mimpi muncul sebagai asosiasi dari pikiran dan kesan yang menghubungkan diri sendiri dengan beberapa obyek syahwat.
Kedua, bagai arus bersih mengalir yang memancarkan obyek/segala gambar. Mimpi ini dapat dipercaya, namun itu harus ditafsirkan simbol-simbol yang muncul. Imajinasi bermain dan menyuplai simbol-simbol tersebut. Freud menyimpulkan simbolisme dalam mimpi. Pertama, beberapa pendapat menentang bahwa orang yang bermimpi merasa tidak mengetahui bahwa hubungan simbol terhadap kehidupan pada kondisi terjaga (bangun). Kedua; hubungan simbolik bukan suatu yang khas bagi orang yang bermimpi dalam lingkup luas. Ketiga, simbolisme ternyata berhubungan dengan tema-tema seksual seperti pada mimpi yang melambangkan obyek dan hubungan seksual. Keempat, simbolisme adalah faktor kedua dan faktor independen, pada distorsi mimpi, hidup berdampingan dengan penyensoran. Manfaat dari jenis mimpi ini adalah pengetahuan. Pemenang nobel, Loevi, memimpikan sebuah eksperimen selama 3 malam. Pada malam pertama, ia membuat catatan tapi tidak bisa menguraikannya kembali dan pada malam ketiga ia terbangun melakukan eksperimen dan memecahkan penemuannya.
Ketiga, mimpi spiritual non simbolik adalah mimpi yang dapat dipercaya karena imajinasi tidak terlibat. “Hati” langsung merefleksikan kesan spiritual (ma`ani ghaibiyah). Mimpi ini tidak memerlukan penafsiran karena berupa wahyu dari yang riil itu sendiri, berhubungan dengan segala sesuatu yang dilihat. Pada mimpi ini terdapat wahyu dan ilham, inspirasi keluar langsung dari jiwa individual. Karakteristik dan manfaat mimpi ini hanya dapat diperoleh oleh jiwa yang telah menjalani penyucian hati.
Pada kasus mimpi, orang yang bermimpi selalu mengatakan tidak tahu apa makna mimpinya. Sedangkan yang lain tidak mampu memberi penjelasan kepadanya. Tapi masih ada kemungkinan, orang yang bermimpi sebenarnya mengetahui apa makna mimpi tersebut, hanya saja ia tidak tahu bahwa ia mengetahuinya sehingga dia mengira tidak tahu apa-apa.
![]()

Filed under: Evaluasi, IBSN, Opini , Diklat, Etika, Informasi, pelajaran, evaluasi, IBSN, metode, lomba, Analisa, sayang, NaBloPoMo09, cenya, contest








[...] a. Pemutaran film Prancis [...]