Dari kegelisahaan seorang Kawanlama95, atau mungkin juga pernah terjadi pada kalian semua, sebagai berikut :
Pak nulis ternyata susah ya. Banyak yang akan ditulis namun teknik penulisaannya, saya masih terhambat. Jadi pesan yang aku inginkan khawatir bias dan tidak mencapai tujuan. Bisa bantu saya dalam menulis.
maka Cenya95 memberikan pencerahan secara teoritis dahulu, terutama manfaat dari kegiatan menulis dan tahapan membuat sebuah tulisan. Sebenarnya ilmunya sudah kita pelajari sejak di SD sampai Universitas, namun tak ada salahnya untuk mengingat kembali proses penulisan.
Kegiatan menulis menguras banyak tenaga, meminta waktu, serta perhatian. Potensi diri dan kemampuan kita, dapat dikenali melalui kegiatan ini, terutama pengetahuan tentang suatu topik. Berapa jauh sih pengetahuan kita tentang topik tersebut. Untuk mengembangkannya, kita terpaksa berpikir, menggali pengetahuan dan pengalaman yang kadang tersimpan di bawah alam sadar.
Kegiatan menulis pun dapat mengembangkan gagasan kita dan memaksa kita bernalar (memperluas wawasan secara teoritis); menghubung-hubungkan serta membandingkan fakta-fakta yang tidak pernah dilakukan jika kita tidak menulis. Bahkan kegiatan ini memaksa kita lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sesuai dengan topik yang kita tulis.
Kegiatan menulis merupakan kegiatan mengorganisasikan gagasan secara sistematik serta mengungkapkannya secara tersurat. Kegiatan ini membantu kita untuk menjelaskan permasalahan yang semula menjadi samar bagi diri sendiri, dan dapat membantu kita dalam meninjau serta menilai gagasan kita sendiri secara lebih objektif.
Kegiatan menulis juga untuk memecahkan permasalahan, dengan menganalisnya secara tersurat, dalam konteks yang lebih kongkret. Kegiatan menulis dapat mendorong kita untuk belajar secara aktif, sebagai penemu sekaligus pemecah masalah, bukan sekedar menjadi penyadap informasi dari orang lain. Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan kita berpikir serta berbahasa secara tertib.
Untuk menulis sebuah karangan sederhana pun, secara teknis dituntut untuk memenuhi persyaratan dasar, seperti menulis karangan yang rumit, yaitu harus memilih topik, membatasinya, mengembangkan gagasan, menyajikannya dalam kalimat dan paragraf yang tersusun secara logis, dan sebagainya.
Kegiatan menulis adalah suatu proses, yaitu proses penulisan. Ada tiga tahap yang harus dilakukan pada kegiatan menulis, yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi. Ketiga tahap ini memiliki kegiatan utama yang berbeda, namun dalam prakteknya tidak dapat dipisahkan secara jelas, melainkan sering bertumpang tindih. Pada saat membuat Rencana, mungkin kita sudah mulai menulis, Sedangkan waktu menulis, mungkin kita juga sudah melakukan revisi. Biasanya terjadi jika tulisan tersebut berupa karangan pendek berdasarkan suatu yang telah diketahui.
Langkah berikutnya adalah menentukan materi penulisan (semua informasi dan data yang dipergunakan untuk mencapai tujuan penulisan.), macamnya, luasnya, dan darimana diperolehnya. Selanjutnya adalah menyusun kerangka (rancang bangun) karangan, berarti memecahkan topik menjadi sub-subtopik. Kerangka ini dapat berbentuk kerangka topik atau kerangka kalimat. Pada taraf pengembangan karangan, kerangka kalimat lebih mengarahkan penulisan dari pada kerangka topik. Kerangka ini disusun secara logis, sistematik, dan konsisten. Jangan lupa mengecek ulang persiapan yang telah dibuat dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai kelengkapan kerangka, kelogisan kerangka, dan sebagainya.
Pada Tahap Penulisan, setiap subtopik pada kerangka tulisan dibahas. Pembahasan itu merupakan isi karangan. Artinya, kita harus mengembangkan gagasan menjadi karangan yang utuh dan harus menguasai kata-kata yang akan mendukung gagasan tersebut. Pilihan kata dan istilah yang tepat akan memudahkan pembaca memahami tulisan tersebut secara tepat pula.
Pada Tahap Revisi, draft tulisan harus dibaca kembali agar dapat diperbaiki, dikurangi atau diperluas, jika perlu. Meskipun kegiatan ini sudah dilakukan saat penulisan, kita tetap saja harus melakukannya secara menyeluruh sebelum menjadi naskah, terutama logika, sistematika, ejaan, tanda baca, pilihan kata, kalimat, paragraf, dan sebagainya. Jika tidak ada lagi perbaikan, selesailah sudah tulisan kita.
Menulislah sebuah feature sebagai permulaan.
Filed under: Bahasa, IBSN , badiklat, Bahasa, cenya, Diklat, faites comme chez vous, IBSN, Informasi, materi diklat, menulis, NaBloPoMo09, Opini, pelajaran bahasa, tata bahasa, teks, Tips








menulis, yang sekitar-sekitar aja gimana?
lebih mengalir..
tapi kalau punya waktu, setuju juga ada kerangka, diperdalam, dreft lalu jadi tulisan..
Cenya95,logonya ganti ya?
[...] dalam sebuah penulisan sering sulit ditentukan. Bila SUBYEK dalam cerita ini memberikan pujian, mungkin penulis itu [...]
sekarang saya lagi susah nulis..
*nulis tugas akhir
hey dude ur blog is nice… i ve added it to my blogroll… kindly visit ma site and add it in ur blogroll…
boleh aku link ya mas, biar mudah dapat pencerahan tentang dunia kepenulisan nih…:)
Terima kasih, salam hangat persahabatan!
Wah terima kasih pak guru, teori2 nya, jadi ingat zaman ESDE dulu, pelajaran mengarang he he…:)
Sepakat, sebuah tulisan yg sudah jadi draft memang harus dibaca lagi berulang kali, karena semakin sering kita ulang membacanya, maka insyaAllah akan semakin banyak koreksian, dan tentunya menjadikan tulisan kita semakin berkualitas.
Ohya terima kasih ya mas atas kunjungannya..btw angka 95 di belakang cenya tuh maksudnya angkatan masuk kuliah tahun 95 yah??
nice info …. bos !!!
keep posting !!!
Wah..jadi tambah ilmu nih… Makasih yaa… Oh Yaa..makasih juga udah mampir ke tempat saya… Salam hangat dan damai selalu…
[...] Older » [...]
Terima kasih atas pencerahan ilmu penulisannya.
Terima kasih pak .aku copy buat sering di baca. dalam minggu2 ini banyak yang lewat depan rumahku ya biasalah aparat tak beratribut aku perhatikan ada 2 orang yang aku tahu. aku tak gelisah namun tertawa saja dlm hati. Ya aku pikir mereka perhatian.
Sip bu guru.. Apalagi plajarannya?
masih banyak… satu persatu, khan baru awal semester. tidak usah terburu-buru, Dol.
Menulis jadi sulit lantaran sejak SD yang diajarkan di sekolah adalh menulis apa yang ada di buku. Bukannya apa yang ada di pikiran dan hati
Lho… itu berarti kita diajarkan nyalin… bukan ngarang bebas, khan ?
Hmmm… coba kuingat-ingat dulu…
nitip:
ikutan vote di sini: Jadikan Pulau Komodo Sebagai 7 Keajaiban Dunia Jangan sampai kita kehilangan ‘Borobudur’ lagi! (he.. he..)
okey… tapi siapa yang ngambil borobudur ?