Tembang, dari sini, ini perlu dinyanyikan kembali oleh para pemimpin di negeri tercinta ini. Sebuah tembang dengan harapan untuk mengingatkan para pemimpin agar tidak lupa diri.
Masih ingat tembang berikut ini …
“Gundul gundul pacul-cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar“
Tembang ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tembang ini berkategori Tembang Dolanan, artinya tembang yang mengandung unsur permainan atau hiburan. Tembang adalah lirik/sajak yang mempunyai irama/nada. Tembang dalam bahasa Indonesia disebut lagu. Kata tembang berasal dari bahasa Jawa. Setiap tembang/lagu memiliki kandungan makna tersendiri.
Begitu pula dengan tembang Jawa ini yang memiliki nilai-nilai edukatif terhadap perilaku atau akhlak manusia yang terpuji. Tembang ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia. Tapi di sini, disebutkan bahwa Pencipta/Pengarang Lagu dan Lirik oleh R.C. Hardjosubroto.
Kembali ke tembang.
Tafsir tembang tersebut sebagai berikut :
Gundul (botak) adalah kepala tanpa rambut. Kepala merupakan lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut sebagai mahkota, merupakan lambang keindahan kepala. Jadi gundul adalah kehormatan tanpa mahkota.
Pacul atau disebut juga cangkul adalah alat yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Alat ini biasa digunakan oleh petani untuk bercocok tanam. Jadi pacul merupakan lambang kawula rendah, kebanyakan petani. Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas).
Gundul Pacul artinya bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Gembelengan artinya besar kepala, congkak/sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
Bila digabungkan kata-kata tersebut di atas, maka tembang tersebut dapat dimaknai sebagai berikut :
Gundul-gundul pacul cul artinya jika orang yang kepalanya sudah kehilangan empat indera tersebut dan mengakibatkan Gembelengan.
Nyunggi nyunggi wakul kul bermakna menjunjung amanah rakyat. Bila dilakukan dengan Gembelengan, akhirnya Wakul ngglimpang yang maksudnya amanah jatuh tidak dapat dipertahankan.
Segane dadi sak latar yang berarti tumpah berantakan jadi sia-sia dan tidak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.
Semoga para pemimpin meresapi lagu ini, berdendang memperbaiki sikap dan perilaku. Karena kemuliaan seseorang tergantung pada penggunaan empat indera yang dimilikinya, yaitu :
-
Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
-
Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
-
Hidung digunakan untuk mencium wewangian, kebaikan.
-
Mulut digunakan untuk berkata adil.
Jika penggunaan keempat hal itu tidak sesuai atau lepas kendali, maka hilanglah sudah kehormatan dan martabatnya.
Filed under: Bahasa, Opini, Poèmes, berita, Budaya, cenya, faites comme chez vous, filosofi, IBSN, Informasi, lagu, NaBloPoMo09, Opini, poeme, puisi, sosial









Appreciate it for helping out, good information.
setuju…
lagu ini sering saya nyanyikan untuk anak dan sampai si kecil pun sering tertawa karena kata2 unik javanismenya. tapi jujur filosofinya nggak pernah dipelajari, mantap dah cenya
pasti menyenangkan bila melihat si kecil tertawa…
makasih.
Hai mas cenya , lama aku gak berkunjung kesini
Hai… juga, hmmm… banyak job… ya..?
eh, aku hapal bgt lho not musiknya lagu ini..
manthab… teope dech.
semuanya pada tertipu dan gak ngerti apa arti tulisan bahasa inggris tadi
“sepertinay ga nyambung ya koment saya
salam sejahterah dan sukses selalu
Hmmm… kalau boleh tau… kaya apa sich… tulisan (sms)nya, Mas.
keren nih
ada filosofi baru
untuk dibicarain
skaligus nyindir para pejabat yg …gembelengan
http://mhprihantoro.blogdetik.com/2011/02/27/jakarta-bakal-idealjika-part-2/
betul… betul… betul…