FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Ironi di Hardiknas (IH: Sesi 1)

Senin pagi, Saat aku berjalan-jalan di daerah Pondok Bambu. Saat itu waktu menunjukkan pukul 07.54. Ku lihat anak berbadan besar, seperti orang dewasa tapi bila melihat wajahnya masih kanak-kanak. Ku hampiri dia dan ku sapa “Dik, tidak sekolah”.

“Tidak, Oom” jawabnya dengan tenang sambil main game di HP. Kulihat jempol tangannya menari dengan lincah di atas tombol HP. Sudah terbiasa rupanya. Serius sekali memperhatikan layar HP yang mungil.

”Sedang libur ?”

”Tidak, Oom?”

”… ???”, Aku dibuatnya tertengun dengan jawaban seperti itu. Lho… kemana orang tuanya pikirku. Kenapa tidak disuruh belajar ? ”Bapak… Ibu ada?” tanyaku dengan penasaran

”Bapak kerja.. Ibu di rumah”, jawabnya dengan acuh tak acuh karena asik bermain. ”Ooo… ???”, tercengang aku dibuatnya. Aneh pikirku, bila orang tua membiarkan anaknya tidak sekolah meskipun pemerintah telah mencanangkan wajib belajar 9 tahun dan biaya sekolah pun sudah didukung oleh pemerintah melalui dana BOS dan BOP.

”Oom mau.. ketemu dengan Ibu ?”

”Tidak, terima kasih… Kenapa adik tidak ke sekolah ?” tanyaku penasaran.

”Malas Oom… belajar sama Bu Surti.”

Lho… karena itu, dia tidak masuk sekolah. ”Sudah berapa hari tidak ke sekolah, dik ?”

”Ada… satu bulan lebih… mungkin”, jawabnya ragu-ragu sambil melirik kepada ku. ”Yaah… Oom sich tanya-tanya terus aku jadi kalah nich.” lanjutnya dengan ketus. ” Dah… aku cerita saja dech, Oom. Biar cepat selesai dan Oom tidak perlu tanya-tanya lagi. Guruku galak… sering marah-marah… suaranya itu lho… Oom, keras dan lantang. Aku khan jadi takut. Apalagi kata-katanya… kasar… Oom, bagi ku yang memiliki perasaan halus.” Dia berhenti sejenak, menelan air liurnya. Hmm… gayanya anak ini pikirku.

”Sebenarnya aku lebih suka diajar oleh Pak Bakrie, lebih enak… Oom.”, lanjutnya dengan serius, ”Cara menegurya itu lho, Oom, membuat semangat belajar. Beda sekali dengan Bu Surti. Orang tua ku sudah menyuruhku bahkan memaksaku untuk sekolah tapi aku tak mau…” Dia menundukkan kepalanya. Terpancar di wajahnya rasa penyesalan dan sedih,

”Aku mau ke sekolah jika belajar dengan guru yang lain.”

”Orang tua kamu tidak dipanggil oleh Wali kelas?” potongku.

”Tidak Oom… eh… mungkin…”, dia tidak yakin… ragu-ragu,”tapi baru kemarin Pak Bakrie ke rumahku.”

Pak Bakrie, itu Wali kelasmu ?”

”Bukan, Oom. Dia… orang baik, tidak seperti Wali kelas ku, Oom.”

Anak ini sudah pintar menilai orang. ”Kamu belajar di kelas berapa ?” tanyaku.

”Kelas 5 SD, Oom. Tanggung ya, Oom, sebentar lagi naik kelas.” Kulihat matanya berkaca-kaca… ada rasa sesal. ”Minta pindah sekolah… tidak dapat ijin dari Kepala Sekolah, kata orang tua ku, karena temanku juga sudah ada yang pindah ke sekolah lain.”

”Lho… kamu koq tahu ?”, aku menyela ceritanya.

”Nguping.., Oom. Saat orang tua ku berdiskusi.”, jawabnya dengan tersenyum, ”Kalo temanku pindah karena sudah tidak tahan dimarahi terus.”

”Kenapa ?”

”Tidak tahu.., Oom. Biasanya jika uang photokopi kurang sedangkan kita diberi uang saku hanya sedikit, Oom. Habis untuk jajan dan amal… Eh… Oom, jangan bilang siapa-siapa… ya ? ini rahasia lho…”, belum sempat kujawab, dia lanjutkan ceritanya, ”Uang amalnya dipotong untuk bayar photokopi oleh bu guru, baru diserahkan kepada koordinator uang amal. Kita sekelas tahu, Oom… diumumkan di depan kelas koq.”

”Uang amal? Dipotong?” aku menegaskan.

”Iya… Oom. Dan kita pun tak pernah dapat hasil photokopiannya, Oom.”

”Hah !!??”

”Ini rahasia lho. Janji jangan cerita kepada orang lain.”

”Iya…”, janji ku kepadanya.

”Dah… ya… Oom. Aku mau pulang… ada tugas dari sekolah, diberitahu temanku, kemarin sore.”

”Lho… gamenya?” tanya ku, iseng.

”Nanti.., diteruskan lagi, Oom.”, sambil berlari, ia pergi meninggalkan ku sendiri.

Termenung aku dibuatnya sampai lupa aku menanyakan namanya dan dia sekolah dimana. Sayang… Apakah hanya karena seorang guru, dia tak mau sekolah. Benarkah ? Atau ada hal lain ? Masih banyak pertanyaan dibenakku untuk anak itu.

Percaya atau tidak… ini sebuah realita di kehidupan dunia pendidikan. Besok, aku akan mencari anak itu. Ingin tahu lebih banyak lagi darinya agar rasa penasaran ini hilang di hatiku.

Filed under: Cerpen, Curhat, Diskusi, , , , , , , , , , , , , , , , ,

25 Responses

  1. I really relate to that post. Thanks for the info.

  2. Rina Syryani mengatakan:

    Splendid job. I did not imagine this. This is a fantastic articles. Thanks!

  3. [...] Saat keluar… di depan kelas V, kulihat Ajang duduk menyendiri di pojok kantin sekolah, menunggu Bunda nya. Wajahnya murung dan tak bercahaya. Pasti dia mengulang pelajaran di kelas V, pikir ku, akibat terlalu banyak tidak masuk dengan alasan tidak suka dengan wali kelasnya. [...]

  4. sharika propolis mengatakan:

    Hello. impressive job. I did not imagine this. This is a great articles. Thanks!

  5. sharika propolis mengatakan:

    Very good written story. It will be supportive to everyone who employess it, as well as myself. Keep up the good work – i will definitely read more posts.

  6. Agata mengatakan:

    I was suggested this website by my cousin. I am not sure whether this post is written by him as nobody else know such detailed about my problem. You are amazing! Thanks!
    Best Regards

  7. Arnie mengatakan:

    I cannot believe that each of these people commenting on this website knows what the hell they’re talking about.

  8. db h2 mengatakan:

    Nice post. I be taught one thing tougher on different blogs everyday. It can all the time be stimulating to read content from different writers and apply slightly one thing from their store. I’d favor to use some with the content material on my weblog whether you don’t mind. Natually I’ll offer you a hyperlink in your net blog. Thanks for sharing.

  9. FLR mengatakan:

    you’ve a terrific blog right here! would you wish to make some invite posts on my blog ?

  10. diet mengatakan:

    Just keep making good content. Exactly what I needed!

  11. BPR mengatakan:

    I have seen similar about this point of view. But it seems your’s is unique and best.

  12. shakira mengatakan:

    wonderful points alltogether, you simply gained brand new reader. What might you suggest about your publish that you made some days in the past? Any sure?

  13. Tiana Aines mengatakan:

    Incredible! Your blog has a ton comments. How did you get so many viewers to view your article I’m very jealous! I’m still studying all about posting information on the web. I’m going to look around on your website to get a better idea how to attract more people. Thanks for the assistance!

  14. [...] ”Ajang, Oom”, jawabnya. [...]

  15. Nisa mengatakan:

    T_T ironi ya pak.. Miris saya membacanya..

  16. SITI FATIMAH AHMAD mengatakan:

    Assalaamu’alaikum wr.wb, sahabatku Cenya95…

    Alhamdulillah, berusaha kembali aktif setelah sekian lama menyepi dari BW mas.

    Kasihan si anak yang tidak mahu sekolah gara-gara seorang guru yang tidak berhemah susilanya. Bagaimana negara bisa mempunyai warga yang bersemangat hebat dalam membangunkan negara, jika semangat itu dibunuh sejak kecil oleh segelintir guru yang bukan sebenar guru.

    Anak itu ternyata pinter dan menyukai sekolahnya kalau ada guru yang benar2 mahu mendidik mereka menjadi manusia sebenar manusia. Pembangunan jiwa anak2 harus dibentuk dengan kaedah yang sesuai menurut zaman anak2 ini.

    Saya yakin, guru yang berjiwa guru sahaja yang bisa menghadapi tingkah anak2 nakal sebelum mereka berubah menjadi manusia yang sadar diri. Ketrampilan guru di hadapan pelajar memainkan peranan untuk kemenjadian pelajar dan menjadi role model kepada pelajar untuk mengikut jejak langkahnya.

    Semoga sehat dan bahagia selalu. Senang dapat kembali bergabung di blog mas.

    Salam mesra darei Sarikei, Sarawak. :D

    • Cenya95 mengatakan:

      Betul… Guru lah yang membentuk karakter anak bangsa. Dan semangat belajar janganlah sampai pupus karna seorang guru yg bukan guru. Punishmen (teguran) kepada guru tersebut harus lah diberikan, khususnya dari pimpinan sekolah. Peranan pengawas pendidikan dasar pun dituntut berperan aktif, bukan sekadar ambil jatah kunjungan. :)
      salam mesra kembali

  17. kereyoben mengatakan:

    Umar Bakrie Umar Bakri…

    sayang gaji umar bakrie dikebiri

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

Halaman

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.