FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Ironi di Hardiknas (IH: Sesi 2)

Selasa pagi, aku jogging keliling kavling. Seperti biasa, sebelum pulang, aku sempatkan mampir ke pasar untuk sarapan bubur ayam. Ternyata susah juga, aku mencari tukang bubur karena sudah tidak mangkal di tempatnya. Ini akibat pasar pondok bambu sedang direnovasi. Cari sana. Cari sini. Akhirnya ketemu juga. Dia ada diujung jalan dekat komplek, disamping tembok SMPN 51. hatiku senang dapat menemukannya. Aku pesan satu mangkok lengkap.

Tiba-tiba…, ”Sarapan Oom ?” sapa anak yang kemarin kujumpa. Membuatku kaget, bercampur senang karena tanpa kucari dia telah menyapa dan berada disampingku.

”Ya”, jawabku, ”Kamu juga ?”

”Sudah Oom.”

”Belum mau bersekolah lagi?” Kulihat dia menggeleng dengan wajah perlahan menunduk. ”Oh… ya, bagaimana tugas sekolahmu ?”, sambungku sambil menerima mangkok bubur.

”Selesai… Oom, tapi kusimpan di rumah saja. Tidak kuserahkan ke bu Guru. Takut.., nanti temanku yang kena marah, Oom.”

”Lho… koq, begitu…?!”, aneh pikirku. Menolong teman belajar bukannya diberi semangat malah dimarahi.

”Iya. Oom”, jawabnya dengan semangat. Antara percaya dan tidak dengan apa yang dikatakan anak ini. Kudengarkan ceritanya namun konsentrasiku sedang ke bubur panas, sehingga tak jelas kata-katanya. Sekali-kali aku mengangguk sedang tanganku sibuk mengaduk-aduk bubur agar cepat dingin. ”Oom !!”, tangannya menyolek lenganku, meminta perhatianku. Sentuhan tanggannya membuatku terhenyak dan menghentikan adukan tangganku.

”Apa ?” tanyaku.

”Sudah ya.. Oom, Selamat makan !”, ucapnya sambil menjauhiku.

”Terima kasih.” sahutku dengan menarik napas panjang karena tidak sempat banyak bertanya tentang dia dan sekolahnya. Biarlah suatu saat nanti pasti kan berjumpa lagi. Sekarang, kusantap duku bubur ayam yang sudah agak dingin.

Sedang asik makan bubur, kudengar sayup-sayup pembicaraan dua orang ibu. Percakapan mereka membuatku tertarik untuk mendengarkannya. Kupasang telingaku lebar-lebar agar semua kata dapat masuk dengan mudah. Konsentrasi penuh. Nah… benar khan, percakapan itu mampir juga ke telingaku. Ternyata mereka membicarakan sekolah dimana anak-anak mereka belajar. Ku dengar …

”Anakmu ikut try out di sekolah ?”

”Ikut. Try out nya khan dari Dinas. Gratis.”

”Ha !! Aku dimintai uang untuk tujuh kali try out… tujuhpuluh ribu rupiah.”

”Ah masa..?? Sekolah anakku tidak tuch. Wah… tidak benar tuch.”

”Iya… benar. Diberitahunya setelah selesai try out terakhir, bukan dari awal, sebelum try out dilaksanakan.”

”Laporkan saja.”

”Kemana ? Komite ? Pengurus komite sekolahnya saja mengundurkan diri.”

”Kenapa ?”

”Di surat edaran Komite Sekolah ditulis karena tidak pernah ada kesepakatan dalam menjalankan program.”

”Koq bisa..?”

”Bisa saja. Sekolah banyak menarik iuran, untuk amal, qurban, pramuka,… hmm… apalagi ya…?”

”???”

”Oh.. ya, Iuran seratus ribu rupiah per anak untuk pembangunan gedung. Tapi baru minggu lalu dikembalikan oleh Komite Sekolah.”

”Kenapa ?”

”Katanya… ada aturan kalau bagunan sekolah tidak boleh ditambah atau dikurangi. Begitu.”

”Jangan-jangan, gara-gara itu sekolah dengan komite tidak cocok.”

”Bisa jadi..”

”Mau… minum apa, pak ?”, teguran tukang bubur membuatku tersentak, kaget.

”Aqua gelas saja, Bang.” pintaku. Ah… si Abang tukang bubur mengganggu saja. Sedang asik mencuri dengar jadi buyar dech konsentrasi. Kucari sumber suara tadi tapi tak kelihatan. Sudah berlalu rupanya.

”Jadi berapa semua ?” tanyaku saat dia memberikan air minum pesananku.

”Tambah apa lagi, pak ?”

”Tidak. Hanya bubur satu dan ini, satu.”, sambil kutunjukan aqua gelas yang ada digenggamanku.

”Enam ribu lima ratus.”

”Ini.. bang, pas. Terima kasih.”

Kutinggalkan tempat itu dengan pikiran yang tidak karuan setelah mendengarkan percakapan tadi. Masih ada yang berani melakukannya padahal pemerintah sedang gencarnya kampanye antikorupsi, padahal dana BOS – BOP sudah mengalir. Bukan main beraninya pikirku. Tapi benarkah hal ini terjadi ? Sepertinya harus kuselidiki satu persatu sekolah yang ada di sekitar rumahku.

About these ads

Filed under: cenya, Cerpen, Curhat, Diskusi, IBSN, Indonésie, NaBloPoMo09, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

10 Responses

  1. anthony weiner porn mengatakan:

    great points all together, you just won a new reader. What might you recommend about your post that you simply made a few days ago? Any positive?

  2. [...] Ajang… dia mengalami pembunuhan karakter, bukan pendidikan karakter. Beberapa hari tidak masuk [...]

  3. [...] ”Ajang mau kemana ?” tanyaku lebih lanjut, ”Kalau tidak terburu-buru… main di rumah Oom dulu… mau ?” bujukku. Aku berharap dia mau mampir sejenak untuk mendapatkan informasi tetang sekolahnya. Memang aku masih penasaran dengan percakapan sebelumnya, kemarin. [...]

  4. [...] Keterlaluan… Percaya atau tidak ? [...]

  5. Hafid Algristian, dr. mengatakan:

    assalamualaikuum..
    apa kabar, mas? semoga sehat selalu.

    wah, bener itu terjadi ya, mas? saya baru tau kalo ada kesenjangan antara Komite Sekolah dengan sekolah itu sendiri. (ngomong2, komite sekolah itu apa ya, mas?)

    oiya, menarik juga tuh home schooling. cenderung lebih aplikatif ilmunya, dan menyiapkan seorang anak punya kemampuan seimbang antara otak kiri dan kanan.

    saya pernah mendengar ada TK Khalifah di Lampung, bikinan mas Ippho Santosa, mendidik seorang anak jadi pengusaha.

    pernah juga saya dengar, ada sebuah sekolah dasar di Bangil, Jawa Timur, dimana anak kelas 1-3 tidak diberi pelajaran text book sama sekali. mereka hanya disuruh bermain dan bermain! barulah kelas tiga semester akhir mulai dikenalkan pelajaran2 sekolah pada umumnya..

    keren!

    • Cenya95 mengatakan:

      Xixixixi… Komite Sekolah kalo dulu POMG namanya.

      Pendidikan memang sedang cari bentuk yg pas. Sayangnya belum dievaluasi, sudah berubah metode dan materi pelajarannya. Dan kemampuan guru terlambat mengembang karena kecepatan perubahan melampaui batas daya serapnya. Maksudnya, belum sempat diaplikasikan seluruhnya sudah diganti. Akhirnya seperti yang kamu pernah dengar, para pendidik bereksperimen mencari metode mengajar yg tepat sesuai dengan tingkat pendidikan. Para teoritikus pendidikan beradu argumen dan membuat quo vadis pendidikan. contohnya; pelajaran PMP (dulu) telah dirubah dan diganti judul, bahkan dihilangkan … sekarang malah akan kembali lagi dimunculkan, entah apalagi, namanya nanti.

  6. Rivanlee mengatakan:

    wah om, cerita 2 ibu itu bukan jadi hal yg khusus lagi.. sudah umum om..

    tapi saya krg nangkep tuh om yg anak kecil, kok bisa ya?? ditunggu part 3 nya :p

    salam :)

    • Cenya95 mengatakan:

      Dulu.. ya.., sekarang sudah tidak… tidak bisa lagi dirubah mainset-nya :mrgreen:

      Bisa lah, jalur pendidikan dah banyak saat ini. Tidak bisa masuk TK, bisa masuk PAUD. Tidak ke sekolah, ya home schooling, ujiannya.. ikut ujian paket.
      Ini tugas Kemendiknas untuk merapihkannya dengan dukungan masyarakat peduli pendidikan.

  7. Rivanlee mengatakan:

    pertamax dulu baru baca :D

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 966 pengikut lainnya.

Halaman

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 966 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: