Sore hari, seperti biasa, ku duduk di muka rumahku. Santai, menikmati suasana di depan rumahku dimana orang lalu lalang. Jalan yang tidak terlalu ramai dilalui kendaraan bermotor meskipun cukup lebar untuk dua mobil. Ku sruput teh manis hangat buatan istriku. Hmm… nikmatnya.
Tiba-tiba …
”Oom… !!”, sapa Karin, keponakanku, dengan menepuk tangan kiriku. Membuatku kaget. Dia pun tersenyum melihatku terkejut.
”Ya…”, jawabku cepat, ”Ada apa ?”
”Oom… kenal tidak dengan orang itu ?”
”Yang itu…?” tunjukku ke arah lelaki paruh baya yang baru saja lewat di depan rumahku.
”Ya.”
”Ya…”, jawab ku sekenanya, ”Kenapa ?” tanya ku penuh curiga.
”Mau tahu siapa namanya, Oom”
”Ooo..”
”Siapa namanya, Oom ?”
Nah kena dech… gara-gara asal jawab sebuah pertanyaan. Ini pertanyaan yang membuatku berpikir untuk menjawabnya. Namun tidak terlalu lama, terlintas sebuah nama dan langsung saja kusebut ”Oom Pimpa”.
”Emang iya, Oom.., itu namanya ?” tanyanya dengan rasa tidak percaya.
”Ya… coba saja kamu panggil. Pasti dia menoleh mencari kamu..”, jelas ku.
”Tidak ah, Oom. Takut. Saya khan tidak kenal.” jawabnya ”Oom saja yang panggil. Dia khan teman Oom.”
”Kamu mau kenalan?” tanya ku. Karin hanya menggelengkan kepalanya, tanda tidak mau. ”Tidak mau ? Ya… tidak apa-apa. Kamu lihat itu. Dia tergesa-gesa. Jangan kita ganggu dia biarkan lah berlalu. Okey…?”
Kuambil majalah National Geographic Indonesia edisi terbaru. Belum sempat kubuka, Karin bertanya, ”Oom… kalau yang itu. Siapa namanya ?”
Kulihat seorang wanita dengan gaun berwarna merah muda lewat. Melihat penampilannya, dia orang kantoran. Tanpa pikir panjang lagi. Ku jawab seenaknya ”Itu…? Tante Girang”. Ups… suaraku agak keras dan wanita itu belum pergi jauh. Semoga dia tidak mendengarnya. Celaka… bila terdengar… bisa ramai, adu mulut.
”Emang iya, Oom.., itu namanya ?” tanyanya dengan rasa tidak percaya dan merasa aneh.
”Ya… coba saja kamu panggil. Pasti dia menoleh mencari kamu..”, jelas ku. Lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya. Mudah-mudah Karin tidak tahu arti kiasan nama tersebut. Kuberharap tidak ada orang lagi yang belum kukenal lewat di depan rumahku. Majalah yang sudah kupegang belum kubuka karena mata ku mencari-cari siapa lagi yang akan melintas dihadapanku dan Karin. Persiapan sebuah nama sebelum ditanya kembali oleh Karin. Anak ini senangnya memang menanyakan nama orang. Bila tidak dijawab, dia akan cemberut. Ya… untuk menyenangkannya, aku berprinsip Ada Pertanyaan Ada Jawaban. Benar atau salah, itu urusan belakang.
Lihat sana lihat sini dan mata ku tertuju pada seorang anak berbadan besar, seperti orang dewasa berwajah kekanak-kanakan. Kuperhatikan dengan jelas dan seksama, ternyata anak itu. Anak yang tidak mau sekolah karena tidak suka dengan sikap dan cara ngajar guru kelasnya.
Sayang sekali pikirku. Semua pasti setuju jika dikatakan bahwa anak-anak Indonesia merupakan harapan bagi bangsa dan negara. Sebagai warga negara Indonesia, kita, semua, pasti mempunyai cita-cita untuk hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang makmur dan disegani. Jalan menuju ke sana tentu terbuka lebar. Siapa lagi yang bisa mewujudkan hal tersebut kalau bukan generasi yang saat ini masih berada di bangku sekolah. Tapi… anak ini tidak duduk di bangku sekolah. Memang baru satu yang kelihatan dimataku. Entah di lain tempat. Masih adakah anak-anak yang berkeliaran pada jam belajar ?
”Oom, itu …?” kata Karin, membuyarkan lamunanku.
”Ya…”, sahut ku cepat, memotong pertanyaan Karin. Kupanggil anak itu, ”Dek… sini !” Dia mencari orang yang memanggilnya. Segera kuletakkan majalah ku. Kuhampiri anak itu agar tampak di matanya. Karin hanya tertengun di tepi kolam, melihatku mendekati anak itu.
”Ada apa, Oom ?” tanya anak itu saat melihat ku dan mengenali wajahku.
”Hanya mau kenalan saja. Kemarin kita berjumpa tapi belum berkenalan. Siapa namamu, Dek ?”
”Ajang, Oom”, jawabnya.
”Ajang mau kemana ?” tanyaku lebih lanjut, ”Kalau tidak terburu-buru… main di rumah Oom dulu… mau ?” bujukku. Aku berharap dia mau mampir sejenak untuk mendapatkan informasi tetang sekolahnya. Memang aku masih penasaran dengan percakapan sebelumnya, kemarin.
”Maaf Oom, aku mau ke toko Ananda. Disuruh ibu, membeli kertas kado.”, jawabnya, ”lain kali saja, ya… Oom”.
”Ya. Jangan segan-segan kalau mau main ke sini.” Dia mengangguk sambil melanjutkan langkahnya menuju pasar. Aku hanya bisa melihatnya pergi meninggalkanku. Sayang sekali, dia menolak tawaranku. Kini kutahu siapa namanya. Paling tidak… dapat kutanyakan kepada anakku, apakah ia mengenalnya. Semoga saja dapat terungkap kasus ini.
”Oom… Siapa ?” tanya Karin penasaran.
”Ajang”, jawabku sambil kembali ke kursiku dan majalahku. Kuambil ambil cangkir teh ku. Kuminum hingga habis. Kulihat Karin asik memberi makan ikan di kolam, di halaman rumahku. Ku mulai membaca majalah kesanyanganku dan terbenam ke dalam cerita peradaban di belahan dunia ini.
Filed under: Cerpen, Curhat, IBSN, NaBloPoMo09, Opini, Bahasa, berita, cenya, cerita, Cerpen, cinta, Curhat, etik, Etika, faites comme chez vous, IBSN, Informasi, Iseng, mental, moral, NaBloPoMo09, pedagogi, pendidikan, prestasi, sekolah









I’ve been just examining your site it is very well written!
[...] Perdebatan itu pun dihentikan Pak Bakrie karena hari sudah siang dan raport harus segera dibagikan. Masalah tersebut akan dibahas di lain hari. Pak umar pun memanggil satu persatu hingga… [...]
I have been browsing online more than 3 hours today, yet I never found any interesting article like yours. It’s pretty worth enough for me. In my view, if all webmasters and bloggers made good content as you did, the net will be much more useful than ever before.
Hello. magnificent job. I did not expect this. This is a splendid articles. Thanks!
I’m still learning from you, but I’m making my way to the top as well. I definitely love reading everything that is written on your blog.Keep the posts coming. I loved it!
You made various fine points there. I did a search on the theme and found most folks will consent with your blog.
I have seen something alike about this post. But it seems your’s is unique and best.
whoah this blog is excellent. i like reading your posts. Stay up the good writings ! You already know, many persons are looking round for this information, you could aid them greatly.
okey… thanx
Salam Takzim
si Ajang pasti orang sunda
Salam Takzim Batavusqu
Hampir benar tebakannya… Dan yang pasti si Ajang sudah berdarah campuran. Dia Janda. Salam kembali
Brilliant ! How did you get all of these bloggers to look at your blog ? I’m very jealous ! I’m still getting to know all about posting information on the web. I’m going to click on more articles on your website to get a better understanding how to attract more people. Thanks for the help !
[...] Older » [...]
jdi yg kemaren manggil aq om pimpa itu kamu to???
tahu gitu gw bikin perhituungan
heheheheehe
Ooo… ternyata kamu tho…!?
nggak bilang-bilang kalo mo lewat… tak ajak ngeteh bareng.
[...] – BOP sudah mengalir. Bukan main beraninya pikirku. Tapi benarkah hal ini terjadi ? Sepertinya harus kuselidiki satu persatu sekolah yang ada di sekitar [...]
[...] Besok, aku akan mencari anak itu. Ingin tahu lebih banyak lagi darinya agar rasa penasaran ini hilang di hatiku. [...]
APakah ini sebuah cerpen fiksi?
Mungkin tidak karena berlatar kenyataan hanya nama orang disamarkan dan nama lainnya nyata. Selaon itu, tidak ada tempat kumengadu kecuali di sini.
ups, ada TG, ntar kalo lewat lagi tanyain ya om
aku seperti pernah ke toko ananda juga beli kertas kado buat anakku, kalo aku lewat panggil aja om gama ayah nanda ya
okey… nanti kalo lewat.. akan diberitahu…
Salam untk sahabat di sono.
salam kembali, pak.
Om Pimpa alaihum gambreng!
Unyil.. Kucing !!!