FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

LoGiKa

Feodalistis yang diucapkan oleh Cantigi pada Pengkaderan kepemimpinan yang diharapkan, telah mengingatkan saya pada diskusi IAPI tentang La logique de l’honneur. Ringkasannya sebagai berikut :

“Feodalisme” adalah satu sistem politik, sosial dan ekonomi, di mana hubungan antara manusia ditentukan oleh suatu perjanjian antara Tuan yang tidak hanya memerintah tapi melindungi, dan Pelayan yang patuh tapi menerima perlindungan sebagai imbalan. Sistem ini muncul di abad ke-IX di Prancis karena runtuhnya kekuasaan kerajaan yang didirikan Carolus Magnus (Charlemagne dalam bahasa Prancis, Karl des Grosse dalam bahasa Jerman, lihat di sini).

Pola kekuasaan dari sentral menjadi lokal. Negara dan pemerintah pusat tidak lagi melindungi orang, yang harus mencari perlindungan di bawah naungan penguasa lokal. Saya tidak akan membicarakan jeleknya atau tidak feodalisme. Yang jelas, feodalisme juga mengandung kewajiban bagi si Tuan, yang harus melindungi bawahannya. Dalam konteks seperti itu lahirlah ideologi “le chevalier qui defend la veuve et l’orphelin” (ksatria yang membela janda dan yatim piatu). Adalah kewajiban seorang bangsawan, melindungi yang lemah : “Noblesse oblige“, keningratan membawa kewajiban, itulah pepatahnya.

Feodalisme sempat tersebar ke seluruh Eropa di Masa Pertengahan. Secara tidak sadar, salah satu prinsip feodalisme masih menggerakkan, secara tidak sadar, logika orang Prancis bermasyarakat. Philippe d’Iribarne, yang menjadi terkenal karena bukunya La logique de l’honneur (1989, lihat di sini) pernah menceritakan anekdot berikut.

Dia sedang berkunjung ke Jepang bersama beberapa rekan professor, bertemu dengan sesama professor Jepang. Setelah beberapa hari, salah satu dosen Jepang bertanya ke dia : “Saya tidak mengerti. Saat masuk suatu ruangan, bukan selalu orang yang sama dari kalian yang duluan masuk. Siapa sih yang paling tinggi pangkatnya dari kalian?” Dalam pandangan Jepang memang yang paling tinggi “pangkat”nya yang pantas dibiarkan masuk duluan. Lain pandangan orang Prancis. Masuk duluan adalah kelakuan yang “vil”, rendah, hina. Seseorang yang sadar akan kedudukannya yang tinggi, tidak akan melakukan hal yang rendah seperti itu. Jadi dia akan cenderung membiarkan orang lain masuk duluan. Tapi dia mengerti bahwa orang lain juga berhak berlaku “noble”, sehingga sekali-sekali dia akan “rela” masuk duluan.

Penulis Marcel Proust, dalam karya agungnya A la recherche du temps perdu, menggambarkan dengan sangat tepat sikap duc de Guermantes (tokoh khayalan yang melambangkan “le grand seigneur“, tuan agung) yang justru sangat sopan dan rendah hati terhadap orang yang secara sosial di bawah dia, agar mereka tidak merasa diremehkan, karena meremehkan itu perbuatan yang dipandang rendah. Saya tidak mengatakan bahwa feodalisme hanya itu. Tapi paling tidak, jiwa “noblesse oblige” masih sangat menentukan sikap sosial orang Prancis.

La logique de l’honneur” bukan satu lagi stereotype tentang orang Prancis. Ladang penelitian Iriabarne adalah apa yang antropolog Clifford Geertz, dalam bukunya The interpretation of cultures, namakan “web of significance”, yaitu suatu sistem interpretasi yang khas pada suatu kelompok tertentu, yang diwarisi di sepanjang sejarah, yang lamban berubah. Sistem ini membuat anggota suatu kelompok secara spontan dan tidak sadar mengasosiasikan apa yang dia lihat, atau hadapi, atau alami, dengan referensi tertentu.

Sistem ini tidak menentukan sikap orang. Jadi setiap orang tetap bersikap berdasarkan sifatnya sebagai individu. Namun individu tidak bebas menentukan bagaimana dia akan menginterprestasi apa yang dia hadapi. Dia akan melakukan hal itu melalui sistem yang dia warisi, dan yang dia miliki bersama sesama anggota kelompoknya. Itu yang membuat dua orang dari satu bangsa memahami suatu situasi atau aksi melalui referensi yang sama. Sedangkan dua orang dari bangsa yang berbeda akan memahami situasi atau aksi tertentu, lewat referensi yang berbeda, menimbulkan salah paham. Hal ini bisa disamakan dengan bahasa. Individu tidak bebas mengucapkan sesuatu semaunya. Dia mewarisi sesuatu yang namanya bahasa, yang dia miliki bersama anggota kelompoknya. Itu yang membuat anggota kelompok tersebut saling mengerti. Khusus mengenai referensi orang Prancis, setiap kali saya saksikan, dan saya juga mendengar kesaksian dari orang. Dalam hal pekerjaan, orang Prancis akan memakai istilah “noble” untuk menilainya.

Satu contoh yang bisa diceritakan adalah seorang teknisi umur 45-an, yang ikut salah satu master UTBM (Universite Technologique de Belfort-Montbeliard ). Dia menceritakan perkembangan perusahaan engineering di mana dia bekerja, dan yang cenderung meng”outsource” sebanyak mungkin pekerjaan, “mais bien sur, nous gardons le travail noble“. Dia berbicara kepada pengurus administrasi master, seorang wanita Inggris. saya tanya kepadanya : “Vous comprenez ce qu’il veut dire par “noble”?” “Of course, it’s the same word in English”, jawabnya. “Oui, mais un”travail noble”, vous comprenez ce que ca veut dire?” “Oh! well, I think this is something typically French”. Bagi dia, orang Inggris, mengkaitkan suatu pekerjaan dengan sifat “noble” tidak masuk akal. Penelitian Philippe d’Iribarne adalah dalam rangka paham “sense-making” , di mana sudah diterima bahwa makna adalah sesuatu yang “dibangun” (is being constructed) oleh setiap orang.

Iribarne, yang dalam hal ini hanya mengikuti salah satu aliran antropologi yang terkini, hanya mengatakah bahwa dalam proses “sense-making” ini, individu tidak 100% bebas. Dia menggunakan referensi yang ada dalam tidak sadarnya. Jadi, tujuan Iribarne bukanlah menggambarkan stereotype bangsa, tapi mengidentifikasi kategori fundamental yang akan menjadi referensi tak sadar dalam menginterpretasi suatu aksi atau situasi. Dan inilah yang membuat timbulnya salah paham antara orang dari bangsa yang berbeda. Itu saya lihat pada interaksi dengan orang Prancis. Semoga penjelasan ini menanggapi tentang risiko stereotype (karakteristik budaya beberapa bangsa). Tapi hati-hati jangan sampai kita terjebak oleh gambaran stereotype. Namun, gambaran-gambaran itu berguna buat kita dalam melakukan tugas-tugas kita.

Pertanyaan mengenai pernyataan “Pour l’honneur de l’esprit humain” itu, saya memberanikan diri untuk menebak bahwa Philippe d’Iribarne orang Prancis. Kuncinya ada dalam istilah “honneur“. Dalam bukunya La logique de l’honneur, di mana dia membahas sikap kerja di 3 pabrik group Pechiney dari Prancis (sekarang sudah tidak ada lagi, “ditelan” Alcan dari Canada), Philippe d’Iribarne menunjukkan bahwa :

* Yang paling jelas adalah logika Amerika : referensi adalah kontrak.

* Di Belanda, referensi adalah konsensus : setiap anggota kelompok, dalam hal ini pabrik, berhak mengemukakan pendirian dan kepentingan pribadinya, tapi ujung-ujungnya, semua anggota harus sepakat demi kepentingan kelompok (ini bertentangan dengan prasangka bahwa orang Barat pada dasarnya individualist belaka).

Untuk orang Prancis, baru setelah 3 tahun memikirkan masalahnya, Iribarne mengerti bahwa penggerak orang Prancis untuk melakukan pekerjaannya bukan kontrak (kalau kontrak dianggap konyol, orang Prancis akan cenderung mengabaikannya) , dan bukan konsensus (bagi orang Prancis, konsensus itu “persetujuan yang lembek, tanpa nyali”). Yang mendorong orang Prancis untuk melakukan tugasnya adalah perasaan bahwa kedudukan (sebagai insinyur, teknisi, juru rawat, pengemudi kereta cepat TGV dll.) mengandung kewajiban (“noblesse oblige“).

Logika tersebut Iribarne juluki “la logique de l’honneur“, yang menjadi judul bukunya. Tahun 2003 Iribarne mengeluarkan buku berjudul Le tiers-monde qui reussit, di mana dia menguraikan “success stories” perusahaan di 4 negara “dunia ketiga” : Argentina, Kamerun, Maroko, Meksiko. Sebetulnya, judul yang dia sendiri inginkan (judul adalah pilihan penerbit) adalah Il n’y a pas de culture maudite, “tidak ada kebudayaan yang terkutuk”. Maksudnya adalah, kebudayaan bukan penghalang untuk sukses di bidang usaha atau organisasi.

Harapan saya adalah menemukan “kunci” sukses usaha atau organisasi dalam konteks Indonesia.

Filed under: Article, Diskusi, France, Indonésie, , , , , , , ,

7 Responses

  1. Lia mengatakan:

    pak. tolong jelaskan maksud dari “noblesse oblige”
    Terima Kasih

    • Cenya95 mengatakan:

      “noblesse oblige” atau “noblesse obligée” ?
      Jika kalimat lengkap lebih enak untuk penjelasannya dan tidak salah menginterprestasikan kata tsb.

  2. cantigi mengatakan:

    haaaa.. ini keren pak. mantap..😀
    ————————–
    @cantigi: thanx …😀

  3. ariefdj™ mengatakan:

    “kunci” sukses usaha atau organisasi dalam konteks Indonesia adalah pandai memainkan kata-kata..😀
    ———————
    @ariefdj™: ya… asal tidak dipermainkan oleh kata-kata..😀

  4. cenya95 mengatakan:

    @cantigi, @subpokjepang: terima kasih masukkannya. Saya akan rubah…. seperti ini, bagaimana ?

  5. subpokjepang mengatakan:

    @cantigi: benar tuh setiap menulis artikel pak okta selalu begitu, jadi dengan tulisan yang berbobot dan sayang untuk tidak dibaca, terpaksa saya print baru dibaca. kalau tidak mata cepat lelah

  6. cantigi mengatakan:

    bravo! ini referensi, opini & analisa yg cerdas. salut buat mas Octa. wawasan saya makin terbuka. ternyata nation typically seseorang berpengaruh pula terhadap sebuah pandangan. paparan kerja di belanda itu benar, karena itu saya alami sekarang.. ^_^
    tapi, tolong bgt mas Octa, artikel ini semua menyatu tanpa paragraf. agak lelah mata saya bacanya. otherwise, it’s great article.
    salam IBSN.. ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.043 pengikut lainnya

Halaman

Award

Dunia Nyata :

1. The Best Blog pada Lomba Blog Badiklat Dephan.

2. Juara Harapan Lomba WebBlog Korpri Dephan.

3. Winner Lucky Votter at 2nd IBSN Blog Award

Dunia Maya :

1. Award Nyante Aza Lae from Sarah

2. Award Gokilzz from Sarah

3. Award Oscar from Sarah

4. Special Award Special Day from Mahendra and from Aling

5. Friendly blogger award 2009 from Ofa Ragil Boy

6. Your blog is Fabulous from Newbiedika

7. Bertuah Award 2009 from Newbiedika and from wahyu ¢ wasaka

8. Kindly Blogger 2009 from Newbiedika

9. Smart Blogger from Newbiedika

10. Super Follower Award from Newbiedika

11. Your BLOG makes us SMILE from Newbiedika

12. Friendship Emblem from Newbiedika

13. Tutorit Friendship from Mahendra

14. Special Award Special 4U from Siti Fatimah Ahmad

15. Pasopati Award from Ali Haji, from newbiedika-fly, and from diazhandsome

16. Award Mawar Merah from OLVY

17. Bintang Wiki Wikipedia from Aldo Samulo

18. Award Perkasa - kau adalah yang terbaik from Siti Fatimah Ahmad

19. Award Truly Blogger from Pelangiituaku

20. Stylish Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad

21. Beginner Experienced Editor Wikipedia from Wagino & Mikhailov Kusserow

22. Very Inspiring Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad.

23. Liebster Award from Siti Fatimah Ahmad.

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

%d blogger menyukai ini: