FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Bahan Renungan ttg Mutu Pendidikan

Tulisan “Mutu Pendidikan : Silau Kemilau Olimpiade Sains” berikut ini sebagai bahan perenungan untuk masa depan pendidikan di NKRI.

Semoga bermanfaat.

Harian KOMPAS, Senin, 16 Maret 2009

Mutu Pendidikan : Silau Kemilau Olimpiade Sains
by Ahmad R Darojat
Peraih Medali Emas Olimpiade Sains Nasional 2007 Bidang Ekonomi

Sekelumit kisah ungkapan hati ini terjadi lebih dari setengah abad yang lalu, tetapi relevansinya masih ada sampai saat ini. Padahal, berbagai kemajuan dunia telah tercapai dengan demikian pesatnya. Namun, ternyata kemajuan pendidikan memang menjadi salah satu pengecualian.

Lambang pendidikan memang biasa digambarkan dengan angka. Entah bagaimana asal muasalnya, tetapi yang jelas angka-angka itulah yang nyaris selalu menimbulkan masalah besar bagi pelajar.

Yang salah harus disalahkan, yang benar harus dibenarkan, jangan memakai idiom jangan saling menyalahkan. Kalau dalil ini dipakai, siapa lagi kalau bukan pemerintah yang patut bertanggung jawab.

Teramat banyak kebijakan tak tepat yang dibuat. Sebaliknya, jangan terlalu menyalahkan para siswa jika lebih suka tidur di kelas atau bolos berpura-pura sakit. Siswa tidak lagi sibuk memikirkan pelajaran, tetapi terlampau sibuk mencemaskan nasib mereka. Nasib lulus ujian nasional atau lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru.

Superioritas eksakta

Penguatan superioritas eksakta dalam alam pendidikan semakin tampak dalam salah satu event besar Departemen Pendidikan Nasional. Kompetisi primadona yang menjadi obsesi besar para pelajar adalah olimpiade sains (OS).

Tak dapat disangkal, kilau gemilang prestasi pelajar-pelajar Indonesia di kancah OS internasional begitu berbinar-binar. Tak syak lagi kilau tersebut mengundang perhatian berbagai kalangan yang kemudian menilai bahwa sebenarnya sumber daya manusia kita mempunyai potensi besar, tak kalah dengan negara-negara lain, bahkan negara Barat sekalipun.

Birokrasi pendidikan dengan konyolnya lagi menganggap mutu pendidikan Indonesia semakin meningkat dengan pencapaian tersebut.

Kilau semakin menyilaukan ketika dinyatakan, dalam beberapa tahun mendatang akan lahir peraih-peraih Nobel dari Indonesia dengan bermodalkan pelajar-pelajar berprestasi luar biasa ini.

Optimisme seperti itu terlalu absah untuk diremehkan. Realitas bahwa ada pelajar-pelajar berbakat tak bisa disanggah lagi. Sayangnya, cara pencarian dan pengolahan bakat tersebut dilakukan dengan sangat mengecewakan.

Bakat-bakat terpendam yang dimiliki oleh pelajar kita tidak cukup digali hanya lewat OS. Apalagi mengukur kualitas pendidikan dengan capaian OS. Ukurannya masih kelewat absurd.

Lihatlah betapa menyesatkan dengan apa yang disebut menang itu. Ketika seorang pelajar berdiri dalam upacara pengalungan medali sambil diiringi lagu kebangsaan, sesungguhnya kemenangannya telah tidak berlaku lagi. Sebab kalau seusai pengalungan medali pertandingan dimulai lagi, belum tentu menang lagi. Tak apalah kalau yang dipakai adalah majas sinekdoke totem pro party.

Namun, keterwakilan tersebut adalah sampel kelas, bukan random sehingga jangkauan mutu sangat lebar jaraknya.

Terlalu instan

Kompetisi seperti OS bisa dikatakan serumpun pula dengan kompetisi pemilihan idola di televisi, terlalu instan untuk dianugerahi predikat superstar. Pembinaan sporadis dan cenderung dadakan dengan cara men-drill siswa sebulan penuh dalam karantina telah mafhum kurang sesuai dengan kaidah pedagogis.

Kekecewaan bertambah pula dengan berpindahnya minat pelajar berprestasi spesifik ke disiplin ilmu lain. Capaian yang susah payah dibangun mubazir saja tinggal kenangan indah yang terukir di medali-medali kejuaraan.

Dari pengakuan beberapa kawan berprestasi internasional terungkap bahwa partisipasi mereka dalam kancah OS hanyalah karena terdorong oleh hobi belaka dan bukan merupakan bidang yang betul-betul mereka minati untuk ditekuni seumur hidupnya. Sungguh menakjubkan, hobi yang mampu “menambang emas”.

Implikasi lebih jauh (seperti yang telah tersebut pada awal) adalah penciptaan klasifikasi pelajar bodoh pintar dengan ukuran pencapaian dalam OS yang kemudian berbuntut panjang pada jomplangnya akses mutu pendidikan di antara dua kelas ekstrem ini.

Anehnya, fasilitas lebih banyak diberikan kepada pelajar pandai dan bukannya kepada pelajar bodoh.

Sedikit cerita, seorang ayah siswa peraih emas olimpiade internasional dengan menggebu- gebu membeberkan idenya (yang akan disampaikan kepada bupati setempat) kepada penulis yang intinya adalah pembentukan kelas unggulan bagi pelajar berprestasi untuk dipersiapkan sebagai peserta berbagai kompetisi.

Menurut pengalaman penulis, yang membutuhkan fasilitas lebih itu bukan siswa pandai, tetapi sebaliknya. Siswa-siswa pandai telah mampu mengembangkan dirinya secara personal dan mereka cenderung telah memahami apa yang harus mereka lakukan.

Baru-baru ini dilontarkan lagi pentingnya memaksimalkan kemampuan pelajar ber-IQ luar biasa. Ironisnya, jarang sekali disuarakan pentingnya fasilitas lebih bagi pelajar ber-IQ rendah.

Baiklah, barangkali banyak pihak terobsesi untuk melahirkan peraih Nobel. Namun, mohon diingat, kita bukanlah pungguk merindukan medali apalagi Nobel !

Filed under: Article, Diklat, IBSN, , , , , , , , , , , , ,

7 Responses

  1. Cenya95 mengatakan:

    @ all: Semoga mutu pendidikan meningkat dan memperhatikan siswa yg cerdas.

  2. Dodik US mengatakan:

    Pemerintah perlu memantapkan penuntasan wajib belajar DikDas sembilan tahun yang berkualitas terutama bagi daerah tertinggal. Dan juga meningkatkan mutu serta relevansi DikMen, DikTi dan Non Formal. Disamping itu, peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik harus diadakan percepatan.
    Dengan demikian mutu pendidikan diharapkan meningkat.
    salam

  3. Nisa mengatakan:

    padahal semua siswa memiliki kecerdasan! ya, kecerdasan yg beragam antar satu dengan yang lain😀
    — cuma suara hati seorang siswi yang 23 hari lagi bakal UAN —
    kami haruz semangat belajar! v(^^)/

  4. WANDI rozaq mengatakan:

    Itulah kelemahan sistem kurikulum, selalu adanya ujian/ulangan akhir yang sebenarnya hanya sebatas kulit saja.
    Kalo melihat sistem pesantren yang non kurikulum, ujiannya setiap hari, dalam aktivitas, bukan kulit saja. Ujian akhirnya di tentukan besok di hari Pembalasan alias hari Akhir. Saya sendiri bukan aliran yang menghalalkan kelulusan ato masadepan anak didik ditentukan dengan model angka yang sebatas teori, but lebih kepada kenyataannya.

  5. kawanlama95 mengatakan:

    Pendidikan yang selalu untuk orang yang cerdas dan pintar akhirnya orang bodoh tak pintar -pintar
    Yang ideal pendidikan kita adalah sekolah praktek
    ah .aku kadang 2 jadi bingung sekolah tinggi tingi kenapa orang disuruh melamar.bukannya dilamar pekerjaan.Ini udah dilamar nga ada perjanjian mengenai honor atau apa kek tentang uang.ah males .Pemerintah maunya doang cape deh.
    Kalo udah porak poranda siapa hayo yang disalahin.pegawai dephan.nga tau

    Aduh kok jadi ngelatur .Maaf mas
    Salam sama pak mentri

  6. Mahendra mengatakan:

    Jawabannya cuma satu !!!

    Kembali kepada sistem pendidikan dan pengajaran yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara. Itulah sejatinya pendidikan Indonesia.

  7. heru mengatakan:

    Perlu diperhatikan bahwa :
    1. Adanya RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan atau SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) membuat tersingkirnya pelajar ber-IQ rendah. Dan sekolah ini memungut bayaran dengan alasan untuk membayar kegiatan exkul, meskipun pemerintah telah mencanangkan wajib belajar dan bebas biaya.
    2. Sistem pembagian kelaspun sudah dapat diketahui bahwa siswa tersebut memiliki prestasi menurun. (Kelas VII-1 lebih berprestasi dibandingkan kelas VII-2, dst).
    Dan masih banyak lagi kendala yang dihadapi. Namun Sya hanya berharap …
    Semoga ajah mutu pendidikan meningkat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.043 pengikut lainnya

Halaman

Award

Dunia Nyata :

1. The Best Blog pada Lomba Blog Badiklat Dephan.

2. Juara Harapan Lomba WebBlog Korpri Dephan.

3. Winner Lucky Votter at 2nd IBSN Blog Award

Dunia Maya :

1. Award Nyante Aza Lae from Sarah

2. Award Gokilzz from Sarah

3. Award Oscar from Sarah

4. Special Award Special Day from Mahendra and from Aling

5. Friendly blogger award 2009 from Ofa Ragil Boy

6. Your blog is Fabulous from Newbiedika

7. Bertuah Award 2009 from Newbiedika and from wahyu ¢ wasaka

8. Kindly Blogger 2009 from Newbiedika

9. Smart Blogger from Newbiedika

10. Super Follower Award from Newbiedika

11. Your BLOG makes us SMILE from Newbiedika

12. Friendship Emblem from Newbiedika

13. Tutorit Friendship from Mahendra

14. Special Award Special 4U from Siti Fatimah Ahmad

15. Pasopati Award from Ali Haji, from newbiedika-fly, and from diazhandsome

16. Award Mawar Merah from OLVY

17. Bintang Wiki Wikipedia from Aldo Samulo

18. Award Perkasa - kau adalah yang terbaik from Siti Fatimah Ahmad

19. Award Truly Blogger from Pelangiituaku

20. Stylish Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad

21. Beginner Experienced Editor Wikipedia from Wagino & Mikhailov Kusserow

22. Very Inspiring Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad.

23. Liebster Award from Siti Fatimah Ahmad.

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

%d blogger menyukai ini: