FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Sajak Pendek untuk Pak Guru #3

Ringkasan Cerita #2

Tris memanggil Elsa melalui guru piket dengan alasan ada konsultasi, padahal ia ingin mencari tahu penyebab kebencian Elsa terhadapnya. Pertemuan keduanya di perpustakaan membuat Tris bingung akan peristiwa yang terjadi di bukit hutan cemara. Sebuah peristiwa yang tak dapat dilupakan oleh Elsa. Tris berusaha untuk mencairkan masalah ini dan memaksa Elsa untuk mengatakannya.

~ ”Berbicara dengan jelas Elsa.”

~ ”Bapak ingat, apa yang terjadi pada diri Elsa saat Bapak menunggu di bukit hutan cemara, Pos I ?” Ragu-ragu Tris menggeleng. ”Ah, Bapak pelupa amat !” Tetap Tris menggeleng ragu. Tris merasa tidak pernah berbuat apa-apa pada diri Elsa, seingatnya. ”Bapak tetap tidak ingat ? Baik Elsa buka saja. Memasuki Pos I, Elsa dibimbing Pak Soni, dipapah. Tumit Elsa terkilir. Bapak dengan tegas memerintah : “Sandarkan di tebing itu. Selonjorkan kakinya. Pak Soni, siapkan minum ! Mama, tolong rotinya ! Semuanya mengikuti perintah Bapak !”

Pak Soni memberikan minum. Bu Tris memberikan roti. Bapak sendiri jongkok melepas sepatu Elsa. Melepas kaos kaki Elsa. Kemudian memerintah lagi : ”Ketua regu, siapkan reumason ! Pak Soni pegang tangannya ! Elsa, kau boleh menjerit sekuatmu. Jangan ditahan, tak usah malu !” Lalu Bapak mengurut tumit itu. ”Tidak sakit ?” Hati Elsa entah mengapa saat itu tiba-tiba menjadi tidak cengeng. Elsa tahan. Bapak perintah lagi: ”Bebat tumit ini dengan mitela ! Jangan terlalu ketat ! Istirahat, tidur kaau bisa !” Lalu Bapak mengurusi seluruh peserta jelajah medan.

Break untuk makan siang. Bapak perintah lagi: ”Elsa, kalau roti itu bisa habis, dengan segelas teh manis itu, engkau akan tetap sehat. Kalau tidak, engkau saya kirim pulang lewat jalan pintas.” Bapak pergi lagi mengurusi peserta. Elsa memandangi saja sosok Bapak yang gagah, berwibawa, dan penuh perhatian itu. Elsa makan habis roti itu. Ketika break selesai Bapak datang lagi. ”Habis rotimu ? Elsa dengar, ada dua pilihan, Engkau terus dengan menyeret kaki, kalau perlu boleh mengkak dengan menyeret kaki, dibimbing regumu sampai ke finish. Atau kau saya kirim pulang lewat jalan pintas. Ada petugas yang akan membawamu. Saya beri waktu tiga menit untuk ambil keputusan. Regu III siap ! Dengar, anggotamu cedera. Tumitnya terkilir. Kalau dia ambil pilihan jalan terus, regu harus bertanggung jawab penuh. Jawab dengan tegas siap atau tidak ?” Regu Elsa secara serempak berteriak tegas, ”Siap !”. Ketika Bapak bertanya pada Elsa, Elsa jawab tegas: ”Terus !”. Lalu Bapak menyalami: ”Saya bangga Elsa, saya bangga ! Tunjukkan bahwa engkau mampu sampai ke finish. Saya yakin engkau mampu.”

”Pak, Elsa tak akan bisa melupakan itu semua.” Tiba-tiba saja mata Elsa basah. Air matanya tergenang.

~ ”Bicara terus Elsa. Tuntaskan ! Kau boleh menangis disini. Tak perlu malu. Saya Bapakmu.”

~ ”Tak pernah sebelumnya Elsa mendapatkan perhatian seperti itu. Ayah saya, Pak, kaku dan tak mau tahu. Elsa tak pernah dekat denganya. Kalau lago nonton TV, Elsa nonton di kursi sini, sendiri. Ayah di sana, sendiri. Sampai acara selesai… ya diam saja. Mematikan TV, nyelonong masuk kamar tanpa ngomong sedikit pun. Tak pernah menegur Elsa. Elsa berangkat sekolah diacuhin saja. Apa yang terjadi di sekolah, ada PR, ada tugas, atau apa saja, tak mau tahu. Elsa bingung.” Mulai runtuh air mata itu. Menderas ke pipinya yang putih, yang dihiasi beberapa jerawat nakal. Dilapnya dengan sapu tangan.

~ ”Engkau pernah menegur lebih dulu ketika ayah ada di rumah. Mungkin saat nonton TV, atau saat duduk-duduk di depan ?

~ ”Nggak. Habis Elsa tak pernah ditegur.”

~ ”Bila kau berangkat sekolah sempat pamit ?

~ ”Nggak. Dia repot sendiri, mau ke kantor.”

~ ”Elsa, dengar. Cobalah membuang rasa angkuhmu. Mulailah menegur lebih dulu. Banyak yang dapat kau lakukan. Seorang ayah yang ditegur dan didekati anaknya, akan bahagia sekali. Benar Elsa, ia akan merasakan bahagia sekali ! Ingat ini. Kau yang harus mendahului ! Kau anaknya. Ayah pasti akan merasakan hal yang sangat menyentuh perasaannya yang paling dalam karena didekati anaknya.”

~ ”Ayah, lain orangnya. Ia mau menang sendiri. Bapak tahu, Ah …” Terisak-isak, menutupi wajahnya. Dicobanya menabahkan diri. ”Ayah tidak sayang lagi pada mama. Sudah mulai main tangan. Rumah tangga Elsa kacau. Mama tak tahan lagi. Hanya karena Elsa, karena mengingat Elsa saja, mama masih mau bertahan di rumah. Ayah keterlaluan Pak. Sudah tidak ingat keluarga lagi. Kami sudah berniat mau pergi meninggalkan ayah. Tak tahan lagi.” Menggigil ia menahan tangisnya.

Plong !

Tris sudah tahu apa yang harus diperbuat. Gunung itu sudah meletus. Lahar menghambur keluar. Tris terbebas dari kungkungannya sendiri. Langkah-langkah musti diambil. Sebentar lagi Elsa ujian. Ia goncang. Tris tahu apa yang akan terjadi bila dibiarkannya Elsa tenggelam dalam kemelut yang membahana ini. Ia ingin menyelamatkan Elsa. Ia harus bisa menyelamatkan Elsa. Ia harus. Ia pembina pelajar.

~ ”Elsa. Maafkan saya tak cepat tanggap. Saya terburu mengambil sikap keras, mungkin kau rasakan, ketika engkau bersikap ekstrim di depan saya.”

~ ”Sakit Pak, sakit rasanya ketika Bapak bilang Elsa harus ke dokter. Elsa masih waras Pak. Hanya Elsa kacau ! Elsa Bingung !”

~ ”Saya tahu Elsa. Saya tahu sekarang apa yang harus saya lakukan. Dengar, saya menyayangi Elsa. Percayalah. Saya tak akan melukai hati Elsa. Saya ingin dekat dengan Elsa. Saya ingin Elsa mau mendengar apa yang saya katakan, mau menuruti, mau bersikap.” Elsa memandang. Dilepasnya kacamatanya. Dihapusnya air matanya. Tampak lebih cantik tanpa kacamata. Matanya bagus. ”Jangan menangis lagi kau tidak sendiri di sekolah ini. Ada saya. Ada yang akan selalu memperhatikan dirimu.”

~ ”Terima kasih. Elsa bahagia sekali.”

~ ”Ada yang dapat kau kerjakan. Yakin pada diri sendiri. Yakin mampu berkonsentrasi. Yakin mampu melewati UAN-UAS dengan prima. Kalau kau tidak yakin, itu salah. Saya telah mengenalmu. Saya tahu kau mampu. Saya yakin.” Mata Elsa berbinar. Wajahnya kian cerah. ”Soal ayah, tidak ada masalah. Mulailah mendekati. Tegurmu akan membuyarkan semua ketegangan yang ada. Kau harus nbangga pada ayah. Ia figur yang telah kaulupakan, karena engkau memang sengaja menjauhkan. Mungkin tak kau sadari. Engkau tak mau mendekat. Egomu bicara duluan. Kau lupa, ayah juga punya ego. Ego-ego ini keras kepala semua. Tabrakan jadinya. Tak ada yang mau mengalah. Tak ada yang mau memulai. Engkau yang saya minta sekarang melunakkan egomu. Mau mulai melangkah. Mau mendahului. Saya ingin engkau menjadi orang yang bijaksana. Orang yang mengalah bukan orang yang kalah. Ia orang yang menang. Ia bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk suatu niat baik. Hikmahnya besar. Lihatlah ayahmu akan kalah. Kalah bijaksana. Elsa lebih dewasa dalam berpikir. Engkau anak tertua, katamu. Kalau berhasil, engkau akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa nanti. Engkau mampu membuyarkan kemelut yang membelenggu keluargamu.” Makin ceria wajah Elsa.

~ ”Elsa tahu Pak. Ego Elsa memang keras, seperti menghadapi Bapak, kesombongan Elsa muncul. Elsa merasa mengagumi Bapak, menyayangi Bapak. Tetapi ego Elsa teriak lain. Tidak, Elsa harus membenci ! Tahu Pak, apa yang Elsa lakukan ? Elsa cari kejelekan Bapak, sekecil apa pun Elsa kumpulkan. Elsa cari terus ! Biar tumbuh kebencian yang menumpuk. Nekad lagi, Elsa dekati anak-anak yang tidak senang kepada Bapak. Elsa bakar diri Elsa. Apa sih kelebihannya ? Toh.. guru biasa. Nggak ada apa-apanya. Elsa ingin lihat, apa kelebihannya. Elsa gali terus, terus, terus …”

~ ”Berhasil ?”

~ ”Ya… perang terus.”

~ ”Tanpa akhir ?”

~ ”Ya.. sudah. Kemarin itu, Elsa pikir Bapak lalu marah, lalu berbuat sesuatu yang bisa membuat kebencian Elsa jadi tambah memuncak. Ternyata …”

~ ”Apa ?”

~ ”Bapak mempunyai cara sendiri. Elsa tak menduga. Betul !”

~ ”Makanya jangan membuat ancang-ancang tanpa perhitungan yang matang. Apalagi membuat praduga yang macam-macam. Kalau kangen bilang saja kangen. Kalau sayang bilang saja sayang. Ruwet amat. Pakai ditimbun segala. Bikin penyakit sendiri.”

Di luar mulai ramai. Bel istirahat telah berbunyi. Beberapa anak menyerbu masuk, melihat Tris, tersenyum mengucapkan Selamat Siang Pak. Liliana lebih berani lagi. Langsung menempel di meja Tris.

~ ”Pak, Liliana mengambil bacaa remaja, eh…, penggunaan kata dalam dua majalah remaja untuk paper. Liliana memilih Bapak sebagai pembimbing. Apa yang harus Liliana persiapkan Pak ?” Tris memandang tak berkedip. Gadis Cina WNI itu termasuk prima dalam mata pelajaran yang diberikan Tris. Tris masih diam. Liliana serba salah, senyum-senyum kebingunan.

~ ”Engkau bicara apa ?”

~ ” Loo… tentang paper.”

~ ”Kepada siapa ?”

~ ”Loo… kepada Bapak.”

~ ”Kenal dia ?” Tris menunjuk Elsa.

~ ”Ya kenal. Elsa !”

~ ”Sudah minta ijin engkau bicara dengan saya, sementara Elsa sedang berbicara dengan saya. Dia akan marah !”

~ ”Idiiiiih. Benar marah Elsa ? Yaa deh ! Ih, ih Kau ini, dasar !” Gregetan dicubitnya pipi Elsa. Elsa mengaduh, berdiri. Dikejarnya Liliana yang sudah lari duluan. Tak terjangkau, Elsa kembali ke kursi.

~ ”Ih, Liliana bandel nih. Sakit ! Pak, Elsa ke kelas.”

~ ”Sudah ?”

~ ”Ya sudah.”

~ ”Masih benci ?”

~ ”Masih. Dan terus.”

~ ”Syukur.”

Elsa beranjak pergi. Balik lagi.

~ ”Pak, Elsa boleh kangen ?”

~ ”Boleh.”

~ ”Boleh menghadap lagi ?”

~ ”Boleh.”

~ ”Ngomong lagi ?”

~ ”Boleh.”

~ ”Ah, ntar Bapak bosen !”

~ ”Tidak.”

~ ”Ngomong apa saja boleh ?”

~ ”Boleh.”

~ ”Benar ya..? Janji.”

~ ”Janji.”

Elsa meninggalkan perpustakaan dengan teriak aduuuh lalu mengejar Liliana yang berhasil mencubit pipinya lagi. Diujung sana Liliana terpegang. Habis pipinya dicubiti Elsa. Mengaduh-aduh… tertawa-tawa… lalu keduanya berangkulan menuju kantin.

Tris meninggal kan ruang perpustakaan. Sebelum pulang ditemuinya dulu Pak Amin dan Bu Sudarmi untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan. Dicegat Bu Rismauli.

~ ”Pak Tris. Bagaimana ? Pak Tris panggil tadi ?

~ ”Mulai ada titik terang, Bu. Perlu penanganan yang cermat. Pelan-pelan.”

~ ”Saya pikir memang harus begitu. Pasti ada apa-apanya. Ya, barangkali saja ia sedang pacaran… ee… bentrok. Pas pacarnya ini mirip Pak Tris. Ya… Pak Tris lah yang ketiban.” Tertawa, lalu melanjutkan, ”Loo… mungkin saja Pak.”

~ ”Mudah-mudahan saja terpegang. Bisa terselesaikan dengan baik. Bisa menyelesaikan pelajaran dengan baik. Yuuk Bu, saya pulang.”

Tris pulang dengan lega. Sudah terbuka. Luka itu terpampang di depan matanya. Tinggal terapi yang diperlukan. Terapi yang tepat. Tiba-tiba Tris ingat Elsa anggota kelompok teater sekolah, aktif, pantas saja apresiasi sastranya bagus. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Tris di kelas sangat berbobot. Tris sudah menduga Elsa mempunyai perbendaharaan materi sastra yang kuat. Kalau Elsa menyebut-nyebut Iwan Simatupang, YB Mangunwijaya dalam argumentasinya pastilah anak ini sudah mengunyah Merahnya Merah, Ziarah, dan Burung-Burung Manyar.

Kemampuan baca puisi sampai juara tingkat wilayah telah membuktikan betapa peka perasaannya. Hebat anak itu. Tris tergetar. Ada yang menggelitik di dasar hatinya. Jangan-jangan kepekaan perasaannya telah bergumul dengan pikirannya yang berkembang berkat bacaan-bacaan sastranya yang termasuk kaliber berbobot. Kalau saja karya-karya Putu Wijaya dan sekelompok penyair jajaran Sutarji CB ikut mengeram di otaknya benar-benar, Tris harus lebih berhati-hati. Ia berhadapan dengan anak yang punya nilai lebih. Terbuka mata Tris ingat ini semua. Paham ia sekarang mengapa sebebas itu Elsa menghadapi orang lain. Seenaknya. Persis seniman !

 

 

Berlanjut …

Filed under: Bahasa, Cerpen, Curhat, , , , , , , , , , , , , , ,

25 Responses

  1. BigTomBB mengatakan:

    Do you think Michel Jackson killed himself ?
    What you think about my web ? fast cash advances

  2. gameskillz mengatakan:

    Killzone 2 – the best PS3 game yet ? Still LittleBigPlanet for me, but Sony’s new shooter is mightily impressive.
    What you think about my web ?

  3. Kang Nur mengatakan:

    mulai tahu nilai2 apa yg mau disampaikan

  4. adiitya mengatakan:

    Wow makin seru dan saya sudah ketinggalan jauh hikz..lanjut baca lagi ah..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.043 pengikut lainnya

Halaman

Award

Dunia Nyata :

1. The Best Blog pada Lomba Blog Badiklat Dephan.

2. Juara Harapan Lomba WebBlog Korpri Dephan.

3. Winner Lucky Votter at 2nd IBSN Blog Award

Dunia Maya :

1. Award Nyante Aza Lae from Sarah

2. Award Gokilzz from Sarah

3. Award Oscar from Sarah

4. Special Award Special Day from Mahendra and from Aling

5. Friendly blogger award 2009 from Ofa Ragil Boy

6. Your blog is Fabulous from Newbiedika

7. Bertuah Award 2009 from Newbiedika and from wahyu ¢ wasaka

8. Kindly Blogger 2009 from Newbiedika

9. Smart Blogger from Newbiedika

10. Super Follower Award from Newbiedika

11. Your BLOG makes us SMILE from Newbiedika

12. Friendship Emblem from Newbiedika

13. Tutorit Friendship from Mahendra

14. Special Award Special 4U from Siti Fatimah Ahmad

15. Pasopati Award from Ali Haji, from newbiedika-fly, and from diazhandsome

16. Award Mawar Merah from OLVY

17. Bintang Wiki Wikipedia from Aldo Samulo

18. Award Perkasa - kau adalah yang terbaik from Siti Fatimah Ahmad

19. Award Truly Blogger from Pelangiituaku

20. Stylish Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad

21. Beginner Experienced Editor Wikipedia from Wagino & Mikhailov Kusserow

22. Very Inspiring Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad.

23. Liebster Award from Siti Fatimah Ahmad.

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

%d blogger menyukai ini: