FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Sajak Pendek untuk Pak Guru #8

Ringkasan Cerita #7

Seminggu Tris berdiam diri setelah membaca sajak Elsa. Membuat Bu Wien dan Bu Rismauli penasaran dan akhirnya ikut membaca juga sajak itu. Mereka terkejut dan memberi komen dengan emosi di depan Tris. Menarik perhatian Bu Sri dan Ia pun terlibat membahas makna sajak tersebut. Akhirnya merka tertawa sambil meninggalkan Tris sendiri, termenung.

Seperti biasa, Sabtu itu Tris, pagi-pagi sekali sudah tiba di sekolah. Memasuki ruangan, menuju ke meja kerjanya, berbenah diri, menyiapkan materi hari ini. Tidak biasanya, Elsa pagi ini sudah masuk ke ruang guru, langsung duduk di depan Tris. Tanpa awalan, langsung terjun.

~ ”Nanti malam jadi nonton ?”

~ ”Jadi. Sudah direncanakan jauh-jauh hari kan ?”

~ ”Elsa boleh ikut Bapak ?”

~ ”Apa maumu saja.”

~ ”Susah sih kendaraan dari sana kalau sudah malam. Ibu dan adik ikut ?” Tris memandangi gadis yang sedang mekar-mekarnya ini. Wajahnya berseri. Tak ada beban. Tak masalah.

~ ”Tidak. Baiknya kita berdua saja.” Elsa kaget, tetapi tersenyum.

~ ”Kok, berdua saja ? Kan bisa bersama-sama keluarga Bapak.”

~ ”Tidak cukup.”

~ ”Loo ! Kan …”

~ ”Berdua sajalah. Elsa dan saya saja.” Elsa tertawa melihat Pak Tris nya yang kian serius itu. Elsa selalu tergelitik menghadapi Pak Tris nya dalam bersikap seperti itu. Selalu mempesona. ”Elsa siap ? Tapi kalau kau pakai lagi seragam putih abu-abu ini pulang saja ke rumah ibu-bapakmu.” Elsa kian tertawa. Sebaris giginya yang bagus tampak menantang. Tris tak tergetar. Ia tahu bagaimana menebar jaring. ”Siap tidak ?”

~ ”Iya, sipa. Tapi mengapa berdua saja ?”

~ ”Sudah saya katakan, mana cukup tempatnya.”

~ ”Loo, kan pakai kijang ?”

~ ”Kijang ? Tidak ada lagi kijang.” Elsa di depan. Saya di belakang.” Elsa pindah dari tertawa ke tertengun. ”Terus angin malam memburaikan rambutmu.” Elsa pindah dari tertengun ke ternganga. ”Terus angin malam menebarkan parfummu.” Elsa geregetan.

~ ”Bapak ngomong apa sih ?”

~ ”IQ mu pendek amat !”

~ ”Elsa nggak ngerti.”

~ ”Kan kau yang membuat. Kok kau yang tak mengerti ?”

~ ”Membuat apa ?” Idiiiih ini Bapak maunya apa ?”

~ ”Elsa yang punya mau. Saya korbannya.” Tambah terbengong-bengong Elsa.

Bagaimana menghubung-hubungkan ini semua. Tris memang mampu menghajar anak cantik ini sampai menggeliat-geliat dulu baru melindasnya. Lagi pula Tris meragukan omongan Bu Sri. Iya kalau ke situ. Kalau ke arah lain ? Tris harus mampu menggali sendiri. Harus mampu menemukan sendiri. Ia baru akan yakin, lalu langkah mana yang harus diambil, harus dipikirkan masak-masak. Dibiarkannya sampai lama Elsa diuber-uber kebingungan. Tersendat-sendat akhirnya Elsa berbunyi.

~ ”Korban apa sih ?”

~ ”Korban becamu ! Saya ladeni Elsa. Nah, apa maumu sekarang ? Sampai kapan terormu ? Sampai kapan puasmu ? Hebat memang ! Kau tinggalkan bom beca itu di mejaku. Lalu kau menghindar. Lalu kau datang pagi ini dengan polos, berlagak dekat, berlagak akrab, berlagak biasa, seperti tidak ada apa-apa. Kau tak bisa sembuh lagi ! Kau sakit ! Parah !” Bibir Elsa bergetar. Matanya memandang tajam dari balik kaca matanya. Berkilat-kilat mata itu, seperti mata yang bereaksi menghadapi ancaman. Melawan dia. Bibirnya merapat, menahan rasa. ”Ngomong !”

~ ”Baik. Elsa ngomong ! Libur seminggu, Bapak pergi. Elsa di rumah saja. Elsa tak bertemu Bapak lagi seminggu. Ada yang hilang. Elsa kangen. Elsa tulis. Katanya dulu disuruh menulis.”

~ ”Ngomong !”

~ ”Elsa ketemu tukang beca. Elsa ingat Bapak.”

~ ”Mengapa bukan tukang beling ?”

~ ”Mungkin saja.”

~ ”Kau !”

~ ”Mungkin saja tong aspal.”

~ ”Elsa !”

~ ”Mungkin saja pintu.”

~ ”Hei !”

~ ”Mungkin saja sapu.”

~ ”Kok !”

~ ”Mungkin saja gayung untuk mandi. Mungkin saja segalanya. Sudah. Itulah Elsa. Elsa tak bisa berbohong. Bapak menghukum Elsa, silahkan, asal jangan sebut lagi Elsa sakit ! Saya memang tak punya otak. Saya hanya punya hati.” Aneh, mata Elsa tajam memandang. Tapi berair. Kata-katanya tegas, tapi bergetar. Dadanya naik turun. Ingin ia ledakkan seluruhnya. ”Pak, Elsa memang aneh. Elsa merasa lewat puisi itu Elsa mesti berkata. Elsa kelewat kangen. Dengan kangen itu Elsa sekarang mampu mengatasi segala-galanya. Elsa sekarang mampu membagi waktu. Elsa sekarang mampu berkonsentrasi dalam studi. Elsa sekarang mampu menduduki ranking dua di kelas. Elsa sekarang mampu bertahan di rumah memberikan dorongan dan semangat pada ibu dan adik-adik. Elsa sekarang mampu bersiap diri menyandarkan ayah. Pak, puisi itu luapan perasaan Elsa. Puisi itu hati Elsa Untuk Pak Tris.” Tris melambung dari dasar jurang yang dalam. Dijabatnya tangan Elsa. Digenggamnya.

~ ”Saya mengerti. Puisimu sudah menjadi milik saya. Saya bahagia membaca puisimu.”

~ ”Elsa tahu bahwa Bapak pasti tahu apa yang tersirat di dalamnya.”

~ ”Ya saya tahu.”

~ ”Tapi menggebrak Elsa dengan pura-pura tidak tahu. Bapak suka menyakiti !”

~ ”Yang benar, membuat kejutan.”

~ ”Ya, Elsa memang kaget.”

~ ”Membuat kejutan tidak sama dengan menyakiti.”

~ ”Iya memang. Terima kasih Pak. Bahagia sekali Elsa pagi ini.”

~ ”Saya juga.”
Dilepasnya tangan Elsa. Dilepasnya gadis cantik itu. Tumbuh semampai dengan rambut tergerai sampai ke pundak itu, berkelebat ringan meninggalkan ruang guru. Di luar, di depan pintu berpapasan dengan Bu Wiek, Kepala Sekolah.

~ ”Selamat pagi Bu !”

~ ”Selamat pagi. Hei Elsa, sini ! Pagi-pagi sudah … ”

~ ”Sudah apa Bu ?”

~ ”Pacaran dengan Pak Tris ya ?”

~ ”Wouow Ibu !” Bu Wiek sengaja menengok ke arah Pak Tris. Elsa tetap saja gembira. Tidak tersipu-sipu dia. Tris tahu apa yang diomongkan. Tersenyum saja. ”Oh ya Bu. Piala sudah saya ambil. Jadi senin nanti Elsa serahkan ke sekolah.”

Bu Wiek mengiyakan dan menanggapi dengan kegembiraan. Satu lagi piala baca puisi tingkat wilayah turun ke sekolah yang dipimpinnya. Bu Wiek langsung mendatangi meja Tris dengan tersenyum ia mengeluh.

~ ”Mau diundur lagi nih jam masuknya ? Baru kita berdua. Lima menit lagi !” Tris ketawa. Apalgi yang harus dikatakan ? Walaupun kepala sekolahnya lebih dari 30 km jarak rumahnya ke sekolah toh tak mampu guru-guru menandingi kesiapannya di sekolah. ”Eh, Dik. Terus bagaimana Elsa.”

~ ”80% Bu. Saya yakin menjelan UN, ia sudah pulih.”

~ ”Syukurlah ! Kelihatan ya perubahannya. Kelihatan sekali akrabnya, centilnya, beraninya, sudah seperti dulu lagi.”

~ ”Ya, orang luar akan menilai ekstrim. Kelewatan.

~ ”Orang yang luka memang di luar duga. Bisa ekstrim, karena perasanya.”

~ ”Saya senang Bu, dia kembali akrab dan terbuka. Tinggal sedikit lagi yang harus dibenahi. Ada satu yang saya rasakan berat. Mungkin ini tidak disadarinya. Etikanya itu yang musti diluruskan.”

~ ”Ya pelan-pelan. Kalau tidak akan meledak lagi !”

~ ”Saya pikir sudah tidak akan meledak lagi, Bu.”
Bu Wiek tersenyum, mengerti. Percaya kepada Pak Tris. Sudah 20 tahun merasakan kedekatan dalam mengemban tugas profesi. Ya, sejak masih sama-sama sebagai guru bahasa Indonesia dulu.

Berlanjut …

Filed under: Bahasa, Cerpen, Curhat, , , , , , , , , , , , , ,

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.043 pengikut lainnya

Halaman

Award

Dunia Nyata :

1. The Best Blog pada Lomba Blog Badiklat Dephan.

2. Juara Harapan Lomba WebBlog Korpri Dephan.

3. Winner Lucky Votter at 2nd IBSN Blog Award

Dunia Maya :

1. Award Nyante Aza Lae from Sarah

2. Award Gokilzz from Sarah

3. Award Oscar from Sarah

4. Special Award Special Day from Mahendra and from Aling

5. Friendly blogger award 2009 from Ofa Ragil Boy

6. Your blog is Fabulous from Newbiedika

7. Bertuah Award 2009 from Newbiedika and from wahyu ¢ wasaka

8. Kindly Blogger 2009 from Newbiedika

9. Smart Blogger from Newbiedika

10. Super Follower Award from Newbiedika

11. Your BLOG makes us SMILE from Newbiedika

12. Friendship Emblem from Newbiedika

13. Tutorit Friendship from Mahendra

14. Special Award Special 4U from Siti Fatimah Ahmad

15. Pasopati Award from Ali Haji, from newbiedika-fly, and from diazhandsome

16. Award Mawar Merah from OLVY

17. Bintang Wiki Wikipedia from Aldo Samulo

18. Award Perkasa - kau adalah yang terbaik from Siti Fatimah Ahmad

19. Award Truly Blogger from Pelangiituaku

20. Stylish Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad

21. Beginner Experienced Editor Wikipedia from Wagino & Mikhailov Kusserow

22. Very Inspiring Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad.

23. Liebster Award from Siti Fatimah Ahmad.

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

%d blogger menyukai ini: