FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Pendidikan Karakter (IH: sesi 4)

Libur panjang memang mengasikkan. Bebas dari pekerjaan rutin. Namun, tidak mengenakkan bila tak ada yang dikerjakan. Kuputuskan kumpul dengan para ponakan, berseluncur di dunia maya. Blogwalking mencari berita tentang pendidikan, coba-coba mengetahui apa yang terjadi saat ini untuk dimengerti.

Banyak masalah yang terjadi dan amat sangat memprihatinkan. Mulai dari ketidakjujuran sampai tindak kekerasan para guru. Jadi teringat Ajang, anak kelas V SD. Dia ingin bersekolah namun karena ketidaksukaannya terhadap cara mengajar Bu Surti, Dia mengambil keputusan meliburkan diri hingga kenaikkan kelas. Dia berharap tahun pelajaran berikut tidak berjumpa dengannya. Masih teringat akan perkataannya bahwa Ini yang keduakalinya wali kelasnya, Bu Surti. Yang pertama, saat dia kelas III.

Quo Vadis dunia pendidikan kita ? Institusi pendidikan yang diharapkan menjadi benteng terakhir penjaga norma dan kejujuran sudah rusak, bukan oleh segelintir guru, tetapi oleh sangat banyak guru berperilaku busuk dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan pribadi. Sebenarnya bukan guru saja dan dapat dikatakan semua jabatan yang masuk dalam kategori tenaga pendidik.

Kutarik nafas panjang dan dalam. Mau mengeluh hanya bisa kepada diri sendiri. Ingin memberikan pemikiran perubahan, tampaknya sulit karena mungkin aku bukan pejabat. Sama sulitnya bila mengharapkan pejabat untuk membuat perubahan. Mungkin kah ? Meskipun Kementerian Diknas yang telah berusaha dengan mencanangkan Pendidikan Karakter.

Kasihan Ajang… dia mengalami pembunuhan karakter, bukan pendidikan karakter. Beberapa hari tidak masuk sekolah dibiarkan saja, berkeliaran di jalanan. Informasi yang kudapat saat aku datang ke sekolah anakku, hari sabtu kemarin, bahwa tidak ada tindakan dari sekolah. Ternyata Ajang satu sekolah dengan anakku, hanya beda kelas.

Informasi tersebut kudapat secara tanpa sengaja. Saat itu, ada pertemuan orang tua murid dan aku duduk dekat Amin karena hanya dia yang kukenal. Anaknya teman anakku saat belajar di Taman Kanak-kanak. Dia mengenalkanku tetangganya, ”Mas, ini Ujang”. Kusalami dia sambil kusebut namaku.

”Itu Bu Surti… Ya ?”, tanya ku.

”Ya.”, jawab mereka kompak, ”Ada apa ?” lanjut Amin dengan curiga.

”Ah… tidak. Hanya ingin tahu saja”, jawabku, ”Dapat kabar burung yang tidak enak tentang dia.”

”Berita motong uang amal dengan alasan bayar photokopi ? Itu mah bukan rahasia lagi. Kata anakku… dia sendiri yang ngomong di depan kelas. Semua anak dengar kok”, sambar Ujang. Kami berdua kaget. ”Belum lagi… bicaranya yang membuat anak-anak takut”, lanjutnya.

”Takut bagaimana ?” tanyaku penasaran dan memancing agar dapat cerita lebih banyak lagi.

”Tidak pantas lah sebagai seorang guru bila bicaranya kasar.” jelas Amin.”Ada murid yang sampai tidak mau masuk sekolah. Dia bilang biarkan saja, nanti juga akan masuk sendiri.” Aku dan Amin hanya saling pandang, tak mengerti campur heran. Mana mungkin, akan kembali ke sekolah bila tidak diberi motivasi (dorongan semangat belajar) kecuali punya kesadaran tentang belajar… belajar sampai liang kubur, pikirku.

”Lho… Dia bilang seperti itu ?”, tanyaku. Belum sempat dijawab Amin pun bertanya, ”Jang, kamu dengar langsung ?”

”Kata istriku. Saat mengantar Mamat. Kebetulan dia ketemu dengan Ibunya…”, Ujang tidak melanjutkan kalimatnya, berhenti dan berpikir sejenak, mencari nama anak tersebut. Tampak sekali dahinya berkerut. Tiba-tiba ”Ya… Ajang, nama anak itu. Ibunya Ajang minta istriku menemainya untuk menemui Bu Surti.”

”Ooo…” secara serempak huruf itu keluar dari mulutku dan Amin.

”Sakit lah hati ibu itu, mendengar jawabannya yang tidak memecahkan permasalahan.” lanjut Ujang, ”Istriku bilang Ajang mau pindah sekolah tapi tidak diberi ijin oleh kepala sekolah. Mungkin takut ketahuan karena sebelumnya sudah ada murid yang pindah. Dengar-dengar alasannya tertekan di kelas. Bahasa kerennya… diintimidasi oleh gurunya.”

Wah… nyerocos terus nih, Ujang, bagai air mengalir deras tak terbendung lagi. Ternyata gosip bukan milik perempuan saja. Pria pun suka.

Hah… yang benar ?

”Benar.” kata Ujang dengan wajah yang serius dengan mata agak membesar.

”Ya… orang tuanya, salah juga jika membiarkannya. Sebentar lagi kenaikan kelas. Dia bisa tidak naik kelas, nanti.” tambah Amin yang menyesalkan sikap orang tua Ajang.

”Lho… kita lihat saja.”, tantang Ujang, ”karena saat kenaikan kelas ke kelas III, Orang tuanya ditawari oleh wali kelasnya. Mau dinaikkan atau tidak ke kelas IV. Orang tua mana yang mau melihat anaknya tinggal kelas. Pastilah milih dinaikkan.”

”Hah… jadi…”

”Ya.”, potong Ujang, ”Naik ke kelas V pun ditawari juga. Nah… salah siapa ?”

Aku dan Amin terdiam sesaat, termenung. ”Jika aku, pasti kupilih tinggal kelas agar anakku tambah paham.” sahutku, ”Pelajaran juga untuk anakku bahwa bila mau berhasil, kita harus belajar.” Kulihat Amin dan Ujang menganggukkan kepala.

Masyaallah… hari sudah siang. Dialog kenangan dibuyarkan oleh panggilan sholat, azan. Kuputuskan untuk istirahat, sholat dan makan. Kumatikan notebookku, namun masih terlintas tentang pendidikan karakter di kepalaku. Pendidikan karakter ?

Pendidikan karakter menurut agama islam ”Fastabiqul Khairat”, berbuat yang terbaik untuk kemaslahatan umat manusia. Dan beranggapan bahwa orang-orang terdidik memiliki karakter yang baik. Kondisi ini sangat terbalik dengan kenyataannya. Untuk merubahnya tidak semudah membalikkan tangan. Usaha ini membutuhkan waktu yang lama karena mengelola negara yang sangat majemuk memang tidak mudah. Entah berapa generasi baru dapat berhasil. Saat ini, saran yang bijak adalah ”Marilah kita bekerja dengan baik”. Mudah-mudahan bukan hanya sebuah ajakan. Dan harus dilaksanakan bersama mulai sekarang. Sayang… bila terlambat dilakukan.

Filed under: cenya, Cerpen, Curhat, IBSN, Indonésie, NaBloPoMo09, , , , , , , , , , , , , , ,

26 Responses

  1. Itfi mengatakan:

    One of my favorite posts.

  2. Wreker Straps mengatakan:

    That was clever. I’ll be stopping back.

  3. […] pada materi ajarnya bukan pada gurunya, meskipun pengaruh guru sangat besar dalam pembelajaran dan pembentukan karakter anak didik. Rate this: Share this:Like this:SukaBe the first to like this […]

  4. baju wanita mengatakan:

    salam kenal yaa..thanx

  5. Baju Tanah Abang mengatakan:

    boleh jua ne…maaf telat…numpang mampir ne..salam kenal

  6. Baju Wanita mengatakan:

    o, begitu ceritanya, sampai separah itu. ckckck😦

  7. bowbee mengatakan:

    Dunia pendidikan kita sedang dalam kondisi yang memprihatinkan… Semoga permasalahan yang ada dapat segera terselesaikan dan indonesia menjadi lebih baik lagi ke depannya..

  8. shia labeouf may 2011 mengatakan:

    Great web site. Lots of helpful information here. I’m sending it to a few friends ans also sharing in delicious. And of course, thanks for your sweat !

  9. SITI FATIMAH AHMAD mengatakan:

    Assalaamu’alaikum wr.wb, Cenya95…

    Guru sebenar guru, ke sekolah tidak jemu mengajar tidak lesu. Saya sungguh sedih mengenangkan Ajang harus mengambil keputusan tidak bersekolah karena Ibu Surti. Guru seharusnya bersifat penyayang jika mahu melahirkan masyarakat penyayang. mendidik tanpa rasa kasih dan sayang akan menggelapkan keinginan anak-anak untuk mengenal ilmu yang bermutu. Kualiti seorang murid dicerna oleh gurunya yang berkualiti.

    Jika tidak mahu jadi guru yang mengajar ilmu dan akhlak, maka sebaiknya berfikir dahulu sebelum menceburkan diri di bidang yang penuh cabaran ini. Jangan tegal nila setitik, rosak susu sebelanga. Mudaha profesi keguruan tidak dicemari oleh seglintir guru yang mengambil mudah urusan pendidikan anak-anak.

    Saya setuju, pendidikan karakter seharusnya bermula dari pembentukan karakter guru sebelum mengalir kepada anak-anak. Guru penjana pendidikan transformasi negara.

    Senang dapat bergabung kembali dengan mas Cenya.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

    • Cenya95 mengatakan:

      Daku setuju dgn pernyataan Bunda ni.
      Pembentukan sebuah karakter bermula dari masa kanak-kanak. Bila sudah menjadi guru bukan lagi dibentuk karakternya tapi dirapihkan/dihaluskan bentuk karakternya. Perapihan karakter guru melalui pendidikan dan pelatihan pengembangan kemampuan guru, seperti pendekatan ilmu psikologi pendidikan yang mulai ditinggalkan.

      Salam kembali mesra🙂 dari Batavia.

  10. Batavusqu mengatakan:

    Salam Takzim
    Libur berapa hari pak
    Salam Takzim Batavusqu

  11. cenya95 mengatakan:

    @adaf n @proglap : Thanks… buanget.

  12. ADAF mengatakan:

    What talented phrase. It is an excellent variant.

  13. proglap mengatakan:

    I agree with you here about “Pendidikan menentukan arah pembangunan bangsa”, but overall a generally good article.

  14. Caryn Heerkes mengatakan:

    I read your article a couple of time so I could be sure I took in all the points. I’m in agreement with you on a lot of this content. Keep working, terrific job !

  15. […] Oom, tapi kusimpan di rumah saja. Tidak kuserahkan ke bu Guru. Takut.., nanti temanku yang kena marah, […]

  16. […] photokopi oleh bu guru, baru diserahkan kepada koordinator uang amal. Kita sekelas tahu, Oom… diumumkan di depan kelas […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.043 pengikut lainnya

Halaman

Award

Dunia Nyata :

1. The Best Blog pada Lomba Blog Badiklat Dephan.

2. Juara Harapan Lomba WebBlog Korpri Dephan.

3. Winner Lucky Votter at 2nd IBSN Blog Award

Dunia Maya :

1. Award Nyante Aza Lae from Sarah

2. Award Gokilzz from Sarah

3. Award Oscar from Sarah

4. Special Award Special Day from Mahendra and from Aling

5. Friendly blogger award 2009 from Ofa Ragil Boy

6. Your blog is Fabulous from Newbiedika

7. Bertuah Award 2009 from Newbiedika and from wahyu ¢ wasaka

8. Kindly Blogger 2009 from Newbiedika

9. Smart Blogger from Newbiedika

10. Super Follower Award from Newbiedika

11. Your BLOG makes us SMILE from Newbiedika

12. Friendship Emblem from Newbiedika

13. Tutorit Friendship from Mahendra

14. Special Award Special 4U from Siti Fatimah Ahmad

15. Pasopati Award from Ali Haji, from newbiedika-fly, and from diazhandsome

16. Award Mawar Merah from OLVY

17. Bintang Wiki Wikipedia from Aldo Samulo

18. Award Perkasa - kau adalah yang terbaik from Siti Fatimah Ahmad

19. Award Truly Blogger from Pelangiituaku

20. Stylish Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad

21. Beginner Experienced Editor Wikipedia from Wagino & Mikhailov Kusserow

22. Very Inspiring Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad.

23. Liebster Award from Siti Fatimah Ahmad.

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

%d blogger menyukai ini: