FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Libur Lebaran di Garut

Hari Pertama

Libur lebaran tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena anak-anak “demam mudik”. Mudik ? Kemana? Orang tua dan Mertua, semua tinggal di Jakarta tapi anak-anak ingin merasakan suasana macet mudik. Biasanya setiap lebaran, kami menikmati lenggangnya Jakarta. Kali ini, libur lebaran harus diperhitungkan dengan matang, mulai dari tempat menginap, tujuan wisata, sampai dengan informasi jalur alternatif menuju tempat tujuan.

Lantunan Azan Subuh bersahutan di hari kedua lebaran. Persiapan libur lebaran di Garut selesai. Sesuai rencana, tepat pukul 05.30, kami berangkat menggunakan kendaraan pribadi.

Perjalanan di Tol Purbaleunyi lancar, tetapi saat mendekati pintu Tol Cileunyi, antrian kendaraan sudah sepanjang 3 km. Kepadatan lalu lintas pun mulai dirasakan setelah keluar tol. Kemacetan terjadi karena ada pengaturan arus lalu lintas dan setelah keluar dari perempatan, kemacetan sudah mencair.

Di tepi jalan Cipancing, banyak pedagang tahu Sumedang. Kami berhenti sebentar untuk membelinya.

“Berapa tahunya ?” tanyaku setelah membuka kaca jendela mobil.

“40 tahu, Duapuluh ribu rupiah.”

Kuambil uangnya dan ku serahkan kepada ibu pedagang tahu. Tidak ada satu menit, ibu itu telah kembali untuk menyerahkan tahu yang masih panas.

“Terima kasih” kataku sambil menstarter mobil. Dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Garut.

“Banyak sekali..!” kata Olins saat membuka keranjang tahu. Namun, kami lebih terkejut lagi karena tahu tersebut habis dilalap berlima dalam waktu 10 menit.

Kepadatan lalu lintas dirasakan kembali mulai Nagreg sampai Kadungora. Jalur ini dilalui karena tujuan pertama kami adalah Situ Cangkuang. Situ Cangkuang adalah sebuah danau terletak di Kecamatan Leles, utara Kabupaten Garut. Di tengah danau, ada pemukiman Kampung Pulo, sebuah kampung kecil dengan enam rumah. Ada Candi Cangkuang, sebuah Candi Hindu yang merupakan hasil pemugaran dan ada pemakaman Islam, salah satunya adalah makam Embah Dalem Arif Muhammad (Maulana Ifdil Hanafi). Cangkuang adalah nama sebuah pohon, sejenis pohon pandan yang daunnya dimanfaatkan untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren.

Untuk menuju Situ Cangkuang dari Bandung menuju Garut dapat mengikuti papan petunjuk yang jelas di Kecamatan Leles. Jalan menuju Situ dapat dilalui kendaraan roda empat dan dua, sedangkan bus dapat parkir di tepi jalan desa, dekat Alun-alun Leles. Bila ingin berjalan kaki akan menempuh jarak lebih kurang 3 km. Tetapi jangan khawatir, karena masih ada angkutan tradisional Andong (Delman) yang siap mengantar ke Situ Cangkuang.

Untuk melihat Candi dan pemukiman Kampung Pulo, kita harus menyeberangi danau dengan menggunakan rakit bambu. Harga tiket pergi pulang sebesar Rp. 4.000/orang dewasa dan Rp. 2.000/anak-anak. Tertulis di pintu loket masuk kapasitas 20 orang per rakit.

“Sepuluh lagi. Berangkat, Pak.” kata petugas. Dan kulihat di rakit sudah tidak ada tempat duduk lagi, sudah penuh. Banyak pengunjung tidak mau naik rakit tersebut karena mereka harus berdiri di bawah sinar matahari.

Tidak lama kemudian, ada rakit merapat menurunkan penumpang. Kami menunggu sampai penumpang terakhir turun. Setelah itu, kami segera menaiki rakit tersebut agar mendapat tempat duduk. Ternyata para pengunjung memiliki pemikiran yang sama. Rakit langsung penuh dan diberangkatkan menuju Kampung Pulo. Tanpa disadari jumlah penumpang melebihi kapasitas akibatnya rakit tenggelam secara perlahan dalam perjalanan ke Kampung Pulo. Penumpang pun panik, terutama anak-anak. Proses penyelamatan dilakukan dengan memindahkan beberapa penumpang ke lain rakit.

Akhirnya, kami sampai dengan selamat di Kampung Pulo. Kejadian tersebut dilaporkan oleh seorang bapak kepada petugas kawasan cagar budaya Situ Cangkuang. Hasilnya, ada berapa pun penumpangnya rakit akan diberangkatkan dan tidak menunggu penumpang sampai penuh.

Para pengunjung harus membayar biaya restribusi kawasan cagar budaya sebesar Rp. 5.000/orang untuk melihat Kampung Pulo, Candi Cangkuang dan Pemakaman Islam.

Suasana Kampung Pulo sangat teduh dan sejuk, meskipun sinar matahari menyengat. Kami menyempatkan sholat dzuhur di Mushollah Kampung Pulo. Saat berwudhu, tempatnya dekat sumur timba. Ini mengingatkan ku akan masa kecilku. Selesai sholat, kami kembali menyeberangi danau dengan rakit yang sama.

Kemudian, kami mampir di RM Sari Cobek Cangkuang, sebuah rumah makan dan pondokan keluarga dengan konsep perpaduan anatar landscape Sunda dan cita rasa yang memanjakan lidah dan selera anda. Letaknya masih di Kawasan Situ, tepatnya di pelataran parkir Situ Cangkuang. Tempatnya bagus berupa saung di atas kolam ikan. Disediakan juga pakan ikan dan alat pancingnya. Kami ke tempat ini untuk mencoba menu Sunda Buhun dan istirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah Sumber Air Panas, dikenal dengan Cipanas.

Di daerah Cipanas, banyak penginapan dengan fasilitas pemandian air panas. Tempat yang kami kunjungi adalah Surya Alam, sebuah kolam dan kamar rendam air panas (sesuai rekomendasi teman yang tinggal di Garut karena kamar rendamnya bersih dan suhu air yang cukup panas sehingga tidak membuat badan lemas). Cukup Rp. 25.000, kita dapat menyewa satu kamar dengan kapasitas 2 orang. Dianjurkan lebih kurang 15 menit untuk berendam air panas.

Selesai berendam, kami menuju tempat bermalam di daerah Wanareja, dekat Pasar Wanareja.

Hari berikutnya

Filed under: Article, cenya, Cerpen, IBSN, Indonésie, Jurnal, NaBloPoMo09, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

2 Responses

  1. […] Hari Ketiga […]

  2. Lihat: […] « Hari Kedua » […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.043 pengikut lainnya

Halaman

Award

Dunia Nyata :

1. The Best Blog pada Lomba Blog Badiklat Dephan.

2. Juara Harapan Lomba WebBlog Korpri Dephan.

3. Winner Lucky Votter at 2nd IBSN Blog Award

Dunia Maya :

1. Award Nyante Aza Lae from Sarah

2. Award Gokilzz from Sarah

3. Award Oscar from Sarah

4. Special Award Special Day from Mahendra and from Aling

5. Friendly blogger award 2009 from Ofa Ragil Boy

6. Your blog is Fabulous from Newbiedika

7. Bertuah Award 2009 from Newbiedika and from wahyu ¢ wasaka

8. Kindly Blogger 2009 from Newbiedika

9. Smart Blogger from Newbiedika

10. Super Follower Award from Newbiedika

11. Your BLOG makes us SMILE from Newbiedika

12. Friendship Emblem from Newbiedika

13. Tutorit Friendship from Mahendra

14. Special Award Special 4U from Siti Fatimah Ahmad

15. Pasopati Award from Ali Haji, from newbiedika-fly, and from diazhandsome

16. Award Mawar Merah from OLVY

17. Bintang Wiki Wikipedia from Aldo Samulo

18. Award Perkasa - kau adalah yang terbaik from Siti Fatimah Ahmad

19. Award Truly Blogger from Pelangiituaku

20. Stylish Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad

21. Beginner Experienced Editor Wikipedia from Wagino & Mikhailov Kusserow

22. Very Inspiring Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad.

23. Liebster Award from Siti Fatimah Ahmad.

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

%d blogger menyukai ini: