FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Agama sebagai Pertahanan Nilai-nilai

Perdebatan tentang hubungan antara agama dan budaya menimbulkan permasalahan yang dihadapi masyarakat, khususnya umat islam, dalam membedakan antara agama dan budaya. Secara pengertian, agama dan budaya berbeda. Kata agama berasal dari bahasa Sansekerta dari kata a berarti “tidak” dan gama berarti “kacau”, jika dihubungkan berarti sesuatu yang tidak kacau. Budaya menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Secara teoritis perbedaan tersebut dapat dijelaskan namun dalam prakteknya sangat sulit dibedakan karena hubungan agama dan budaya sangat erat. Permasalahannya adalah bagaimana hubungan tersebut dalam dimensi sosialbudaya pertahanan.

Tokoh sosiologi, Emile Durkheim (1912 [1879]) dalam buku The Elementary Form of Religious Life; London: Allen-Unwin, lebih satu setengah abad yang lalu berteori bahwa agama adalah pusat kebudayaan karena agama memiliki kekuatan terbesar untuk mengendalikan semua aspek kehidupan manusia. Hal ini karena hanya agama yang dapat menjelaskan hakikat keberadaan manusia itu sendiri, dari mana ia datang, apa tugasnya hidup di dunia, dan akan kemana jika ia meninggal. Tak satu pun unsur kebudayaan yang dapat menjelaskan hal itu kecuali agama. Argumen Durkheim kemudian diperkuat oleh Clifford Geertz (1973) The Interpretation of Cultures; New York: Basic Books, yang mengatakan bahwa agama bukan hanya bagian dari kebudayaan, tetapi juga adalah inti kebudayaan. Sebagai inti kebudayaan (culture core) agama menjadi pedoman hidup, penentu arah dan ketepatan kehidupan yang dipandang baik dan buruk. Dengan kata lain, agama menstrukturkan pikiran warga masyarakat.

Pergeseran cara pandang terhadap agama sebagai (inti) kebudayaan dari positivisme ke konstruktivisme yang sejalan dengan pergeseran pemosisian manusia dari obyektif ke subyektif terutama pada awal abad ke-21. Implikasi dari subyektivifikasi manusia dalam pandangan konstruktivisme adalah bahwa manusia adalah mahluk yang aktif, kreatif, produktif, dan bahkan manipulatif dalam kebudayaannya. Manusia tidak hanya memiliki pengetahuan, keyakinan, dan nilai-nilai agama yang diwarisinya dari generasi sebelumnya, tetapi juga mampu menginovasi dan menggunakan agama untuk berbagai konteks kepentingan hidup. Karena terbukanya peluang untuk inovasi dan penggunaan agama untuk kepentingan-kepentingan bagi kehidupan, maka subyektifikasi dapat berarti individualisasi agama, dengan pengertian bahwa fungsi kolektif agama yang sangat kuat dalam positivisme semakin dipertanyakan pada masa kini.

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, pertanyaan tentang apakah agama masih tetap menjadi sentral atau inti kehidupan masyarakat, atau sudah bergeser ke pinggir kehidupan. Hal ini, masih menjadi perdebatan karena banyak fakta yang menunjukkan bahwa fungsi agama sebagai inti kebudayaan tetap berlaku pada kolektiva-kolektiva tertentu, seperti: menguatnya kesadaran identitas kelompok keagamaan, munculnya agama-agama baru yang kerapkali dilabel “sempalan” oleh orang luar, kelompok-kelompok agama radikal yang mengembangkan identitas sendiri, revitalisasi agama yang sebelumnya dianggap sudah hilang atau mengalami kemerosotan, dan lain-lain. Yang tetap disepakati adalah bahwa agama sebagai inti kebudayaan tetap hadir dalam diri individu, meski pun pengendalian struktur sosial terhadap keagamaan individu semakin longgar.

Dalam pemikiran positivisme, agama sebagai inti kebudayaan adalah suprastruktur yang sarat bermuatan pengetahuan, keyakinan, aturan-aturan, dan nilai-nilai yang berfungsi mengendalikan masyarakat sehingga agama bersifat otoritatif. Agama dalam hal ini, berfungsi sebagai benteng pertahanan bagi terpeliharanya struktur sosial atau masyarakat. Kelangsungan dan perawatan agama sangat penting agar kemampuan benteng ini terpelihara. Meski agama berfungsi sebagai pengendali positif, namun penyimpangan fungsi pengendalian negatif juga bisa terjadi. Kepentingan-kepentingan lain, seperti ekonomi dan politik, turut berimplikasi terhadap fungsi agama secara kolektif.

Strategi membangun ketahanan dan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak hanya dilaksanakan dalam konteks militer, tetapi juga nirmiliter. Salah satu unsur dasar strategis ketahanan dan pertahanan nirmiliter ini adalah ketangguhan manusia Indonesia untuk menghadapi tantangan nirmiliter dari luar. Tantangan nirmiliter itu adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang datang dari lingkungan global, dan perubahan yang berasal dari dalam negeri kita sendiri. Ketika kita menjalankan kebijakan positivistik pada masa Orde Baru, agama sebagai inti kebudayaan, adalah sumber ketangguhan terbesar untuk menangkal ancaman dan tantangan perubahan kebudayaan dari luar. Kebijakan tersebut diterapkan secara seragam dan serentak dari atas hingga ke bawah (top down).

Ketika pemikiran dunia sosial bergeser ke arah konstruktivistik pada masa kini, gagasan ketahanan dan pertahanan negara harus berasal dari warga negara Indonesia. Upaya membangin ketahanan dan pertahanan negara yang berbasis nilai-nilai masyarakat akan menghadapi tantangan berat, karena pemikiran konstruktivisme didominasi oleh keinginan untuk diakuinya keanekaragaman dan kebebasan. Kondisi-kondisi alamiah bangsa kita sendiri pada masa kini masih kurang mendukung nilai-nilai multikultural yang berintikan toleransi, kerukunan, dan saling menghargai perbedaan. Masih panjang, waktu yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat Indonesia yang multikultural. Peranan dan fungsi agama sebagai sumber nilai-nilai multikultural menjadi kuncinya.

Iklan

Filed under: Article, cenya, Diskusi, IBSN, Indonésie, Keamanan, NaBloPoMo09, Pertahanan, sosial, , , , , , , , , , , , , , ,

4 Responses

  1. […] adalah negara bangsa (nation state), yaitu suatu negara yang tersusun dari banyak sukubangsa, ras, agama, dan golongan sosial yang secara keseluruhan diikat oleh rasa kebangsaan (nasionalisme) yang […]

  2. […] Indonesia, peristiwa lebaran dan mudik mungkin hanya terjadi di Indonesia. Di seluruh dunia, muslim merayakan Iedul Fitri pada 1 Syawal, yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan. Di Arab Saudi sendiri merayakan Iedul Fitri hanya […]

  3. […] biasanya berjangka panjang, tidak memiliki batas waktu tertentu, bewarna kolektif, transparan (demi kontrol sosial), dilakukan pada waktu tertentu (misalnya, ketika ritual, upacara sosial, dan lain lain), absah […]

  4. […] mencari penghasilan tambahan, hingga promosi jabatan di kantor. Kebudayaan setempat mengembangkan mekanisme kontrol tradisional apabila ada kerabat yang tidak menjalankan tugas sosialnya membantu sesama kerabat, atau bahkan […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.069 pengikut lainnya

Halaman

Award

Dunia Nyata :

1. The Best Blog pada Lomba Blog Badiklat Dephan.

2. Juara Harapan Lomba WebBlog Korpri Dephan.

3. Winner Lucky Votter at 2nd IBSN Blog Award

Dunia Maya :

1. Award Nyante Aza Lae from Sarah

2. Award Gokilzz from Sarah

3. Award Oscar from Sarah

4. Special Award Special Day from Mahendra and from Aling

5. Friendly blogger award 2009 from Ofa Ragil Boy

6. Your blog is Fabulous from Newbiedika

7. Bertuah Award 2009 from Newbiedika and from wahyu ¢ wasaka

8. Kindly Blogger 2009 from Newbiedika

9. Smart Blogger from Newbiedika

10. Super Follower Award from Newbiedika

11. Your BLOG makes us SMILE from Newbiedika

12. Friendship Emblem from Newbiedika

13. Tutorit Friendship from Mahendra

14. Special Award Special 4U from Siti Fatimah Ahmad

15. Pasopati Award from Ali Haji, from newbiedika-fly, and from diazhandsome

16. Award Mawar Merah from OLVY

17. Bintang Wiki Wikipedia from Aldo Samulo

18. Award Perkasa - kau adalah yang terbaik from Siti Fatimah Ahmad

19. Award Truly Blogger from Pelangiituaku

20. Stylish Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad

21. Beginner Experienced Editor Wikipedia from Wagino & Mikhailov Kusserow

22. Very Inspiring Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad.

23. Liebster Award from Siti Fatimah Ahmad.

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

%d blogger menyukai ini: