FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Toleransi dan Tolerasi

Beberapa hari/minggu/bulan terakhir media massa dan media sosial cukup ramai memperbincangkan isyu intoleransi dalam masyarakat kita. Kami jadi teringat percakapan kami di tahun 2011 dengan Bapak Achmad Fedyani Saifuddin (saat itu beliau menjabat sebagai staf ahli bidang sosial Kementerian Pertahanan). Inti dari percakapan tersebut sebagai berikut:

“Toleransi (diterjemahkan dari kata bahasa Inggris “tolerance”) didefinisikan sebagai sikap penerima eksistensi keragaman kebudayaaan, secara khusus keragaman agama atau keyakinan. Konteks penggunaan istilah toleransi adalah individu dan kolektif dalam ranah empirik. Maksudnya adalah bahwa sikap menerima tersebut tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari individu atau kolektif para penganutnya. Berbeda dengan tolerasi, tolerasi (diterjemahkan dari kata bahasa Inggris “toleration”) adalah sikap negara yang mengakui keragaman budaya, secara khusus keragaman agama atau keyakinan, yang sebagai konsekuensi penerima itu negara mengatur dan menjamin secara adil semua agama atau keyakinan itu berdasarkan atas kesamaan hak hidup dan mengekspresikan keyakinan mereka dengan aman dan damai. Dipandang dari pengertian ini, kedua istilah tersebut tidak mengandung persoalan karena karakternya yang integratif. Keduanya mengandung makna hidup berdampingan secara damai dan rukun.

Konsep Toleransi dan Tolerasi sangat penting dalam konteks masyarakat atau bangsa yang berciri pluralitas yang tersusun dari banyak ras, etnik, agama, aliran politik, dan sebagainya. Dalam konteks toleransi, hanya kesediaan setiap kebudayaan menerima eksistensi kebudayaan lain dalam semangat saling menghargai yang mampu memelihara integrasi masyarakat tersebut. Toleransi yang bekerja dalam tingkat realitas empirik ini sangat penting dan menentukan karena berada pada ruang mikro yang sarat bermuatan sosial, budaya, dan psikologikal dimana individu-individu atau kolektif-kolektif berhadapan langsung di dunia nyata. Sedikit saja unsur pemicu mengintervensi perbedaan ini, konflik segera meletus. Sentimen marah, benci, dendam, dan sejenisnya bercampur aduk dengan sosial dan kultural sehingga konflik terbuka dapat terjadi kapan saja. Artinya beban perbedaan telah melampaui batas toleransi. Adapun tolerasi bekerja pada tingkat negara. Sikap negara untuk menerima dan menjamin eksistensi keragaman budaya; secara khusus dalam hal ini, agama atau keyakinan keagamaan; lebih rasional dan terukur. Negara secara sadar membangun kebijakan untuk mengelola aneka ragam penganut agama secara adil agar setiap individu atau kolektif agama dapat menjalankan ajaran agama mereka dengan bebas dan damai.

Berlawanan dari istilah toleransi dan tolerasi adalah intoleransi dan intolerasi. Istilah “intoleransi” adalah lawan kata “toleransi”. Hanya untuk bermaksud memudahkan kita dalam memahami kata yang berlawanan ini, maka lawan kata “toleransi” adalah “intolerance”, yang sesungguhnya bisa juga diterjemahkan menjadi “ketidaktoleransian” atau “ketidaktoleranan” yang tampaknya kurang efisien dan efektif, maka kata “intoleransi” menjadi pilihan karena lebih mudah diingat dan diucapkan.

Intoleransi beragama muncul, berdasarkan pengamatan empirik adalah bahwa umat beragama (khususnya minoritas) tidak mudah melakukan ibadah karena dihalang-halangi oleh umat beragama lain (khususnya mayoritas). Selain itu, permasalahan internal yang terjadi di dalam agama itu sendiri bahwa masih ada aliran-aliran yang mempermasalahkan perbedaan-perbedaan.”

Beberapa solusi pun ditawarkan seperti para Antropolog memberikan tiga langkah menangkal intoleransi di Indonesia. Sebenarnya bahwa apa yang terjadi akibat dari: Pertama, batas ambang toleransi telah terlampaui sehingga karakter pluralitas aslinya lebih kuat daripada benteng toleransi di lapangan. “Kotak-kotak” kebudayaan yang menjadi unsur penyusun masyarakat bangsa kita muncul ke permukaan menunjukkan jati diri aslinya; Kedua, tolerasi pada tingkat negara kurang mampu mengendalikan perbedaan-perbedaan yang menajam pada tingkat empirik. Apabila kelemahan negara ini berlanjut maka konflik antar umat beragama bisa berkembang semakin besar dan membahayakan; dan Ketiga, tolerasi pada tingkat negara disadari mungkin belum cukup adil memperlakukan beragam umat beragama yang ada dalam masyarakat. Oleh sebab itu negara harus merevisi kadar dan kualitas toleransinya agar semua umat beragama diakomodasi dengan baik dan adil demi memelihara integrasi bangsa Indonesia.

Iklan

Filed under: Article, cenya, Diskusi, IBSN, Indonésie, Keamanan, NaBloPoMo09, Pertahanan, Politik, sosial, , , , , , , , , , , , , ,

4 Responses

  1. […] atau desa, melainkan nasional, regional, dan global. Kekerasan simbolik mode siber ini mempunyai efek menghancurkan jauh lebih besar daripada kekerasan simbolik faktual empirik […]

  2. […] dengan masuknya “bantuan” itu adalah masuknya konsep dan wacana korupsi, yang sebenarnya adalah tuntutan akan pertanggungjawaban atas “bantuan” luar negeri yang diberikan, menurut kacamata dan standar pemberi bantuan bukan standar masyarakat […]

  3. […] Kondisi-kondisi alamiah bangsa kita sendiri pada masa kini masih kurang mendukung nilai-nilai multikultural yang berintikan […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan dan menerima pemberitahuan tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1.064 pengikut lainnya

Halaman

Award

Dunia Nyata :

1. The Best Blog pada Lomba Blog Badiklat Dephan.

2. Juara Harapan Lomba WebBlog Korpri Dephan.

3. Winner Lucky Votter at 2nd IBSN Blog Award

Dunia Maya :

1. Award Nyante Aza Lae from Sarah

2. Award Gokilzz from Sarah

3. Award Oscar from Sarah

4. Special Award Special Day from Mahendra and from Aling

5. Friendly blogger award 2009 from Ofa Ragil Boy

6. Your blog is Fabulous from Newbiedika

7. Bertuah Award 2009 from Newbiedika and from wahyu ¢ wasaka

8. Kindly Blogger 2009 from Newbiedika

9. Smart Blogger from Newbiedika

10. Super Follower Award from Newbiedika

11. Your BLOG makes us SMILE from Newbiedika

12. Friendship Emblem from Newbiedika

13. Tutorit Friendship from Mahendra

14. Special Award Special 4U from Siti Fatimah Ahmad

15. Pasopati Award from Ali Haji, from newbiedika-fly, and from diazhandsome

16. Award Mawar Merah from OLVY

17. Bintang Wiki Wikipedia from Aldo Samulo

18. Award Perkasa - kau adalah yang terbaik from Siti Fatimah Ahmad

19. Award Truly Blogger from Pelangiituaku

20. Stylish Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad

21. Beginner Experienced Editor Wikipedia from Wagino & Mikhailov Kusserow

22. Very Inspiring Blogger Award from Siti Fatimah Ahmad.

23. Liebster Award from Siti Fatimah Ahmad.

enjoy-jakarta

logo-ibsn-11

hiblogikoh

%d blogger menyukai ini: