FAITES COMME CHEZ VOUS

Beramal dengan ilmu dan pengalaman mulai dari rencana, organisasi, kontrol sampai evaluasi. Diharapkan dapat mencerdaskan bangsa demi negara tercinta, NKRI. Semoga bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Perang, Konflik Bersenjata dan Damai


Secara implisit dalam pengertian perjuangan Nasional atau memperjuangkan kepentingan Nasional, tidak dapat dilepaskan dengan kemungkinan-kemungkinan adanya pertentangan kepentingan dengan bangsa lain, bahkan pula pertentangan kepentingan antar kelompok dalam tubuh bangsa sendiri. Dari sini timbullah situasi konflik. Penyelesaian konflik dapat dilakukan dengan akomodasi, integrasi secara konsensus tanpa kekerasan. Banyak dilakukan dengan tekanan dan kekerasan, tidak terbatas selalu dengan kekerasan senjata, tetapi dengan bentuk-bentuk kekerasan yang meliputi bidang kehidupan, apakah politik, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya. Baca entri selengkapnya »

Filed under: IBSN, Indonésie, Pertahanan, Politik, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kepemimpinan… sejak reformasi bergulir


Sejak reformasi bergulir, sistem kepemimpinan di Indonesia tidak lagi sentralistik, tetapi sudah desentralistik, kenyataannya dalam Pilkada Tk. I, II maupun pilpres punya janji-janji masing-masing, yang notabene pemimpin daerah dan pemimpin nasional tidak satu suara, sehingga banyak menimbulkan ketimpangan-ketimpangan kepemimpinan, Bupati seakan sudah berdiri sendiri dan tidak tergantung lagi dari Gubernur dan instruksinya, demikian juga Gubernur tidak lagi ketergantungan komando presiden. Lihat saja struktur Departemen-departemen seperti pertanian, pendidikan dan lain-lain yang sudah tidak satu mata rantai lagi karena di daerah sudah dikendalikan oleh Bupati/Gubernur. Wali melalui dinas-dinasnya.

Baca entri selengkapnya »

Filed under: Article, IBSN, Pertahanan, , , , , , , , , , , , , ,

Tantangan Integrasi Nasional


Bangsa Indonesia sebetulnya dapat belajar dari pengalaman negara-negara lain dan dari negara kita sendiri tentang akibat menguatnya primordialisme, sehingga keberadaan dan penguatan lembaga-lembaga integrative seperti sistem pendidikan nasional, birokrasi sipil dan militer, partai-partai politik (ideology nasionalisme yang dapat menjembatani perbedaan etnik yang tajam, Sedangkan partai etnik tidak berhasil) harus tetap dilaksanakan dengan mengngat bahwa hal ini adalah sebagai konsekuensi dari masyarakat kita yang majemuk.

Perlunya lembaga-lembaga pemersatu melalui state building dilandasi oleh pemikiran seorang ilmuwan Benedict Anderson, yang menganggap nasionalisme sebagai ideologi yang membentuk suatu masyarakat imajiner (imagined communities). Dalam masyarakat imajiner menjadi masyarakat riil juga membuktikan kebenaran teori Geertz tentang perlunya lembaga-lembaga pemersatu, sehingga ketika pencetus ideology nasionalisme para founding father sudah meninggal, negara bangsa masih tetap bertahan dan tidak terjadi disintegrasi. Uraian secara singkat tentang lembaga pemersatu yang dimaksud tersebut adalah sebagai berikut : Baca entri selengkapnya »

Filed under: Article, IBSN, KORPRI, Pertahanan, , , , , , , , , , , , , , , ,

pengKaderan kePemimpinan yang diHarapkan


Munculnya orang-orang yang ingin menjadi pemimpin secara instant akibat dari pengkaderan kepemimpinan, saat ini, masih terdapat kelemahan dalam pelaksanaannya dan mereka tidak dapat memenuhi kriteria yang diharapkan sehingga dapat menimbulkan ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan. Hal ini dapat menimbulkan berbagai persoalan dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Meskipun pemimpin telah memiliki tiga gaya kepemimpinan dalam mengambil keputusan yaitu pragmatisme, memiliki orientasi mencapai tujuan rasional (goal oriented), dan pertimbangan ideologi yang dianut.

Guna menentukan kebijaksanaan, strategi dan upaya dalam mengatasi kelemahan pelaksanaan pengkaderan kepemimpinan, kita harus memahami karakter kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan yaitu bersifat egaliter, kesetaraan, dan religius. Bersifat egaliter yaitu kepemimpinan yang menyatu dengan yang dipimpinnya. Pendekatan yang digunakan bukan pendekatan kekuasaan, apalagi kekuatan, melainkan dengan menempatkan diri sebagai penggerak, pendorong, dan panutan. Kesetaraan adalah penghayatan pimpinan terhadap ‘hakikat ke-Indonesia-an adalah keberagaman’, sehingga mapu bersikap anti diskriminatif, memberi perhatian, sentuhan dan perlakuan yang setara. religius berdasarkan Pembukaan UUD 1945 : “Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa …” seorang pemimpin akan memiliki norma, etika dan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya bangsa. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Indonésie, Organisasi, Pertahanan, , , , , , , , , , , , , , ,

Kecenderungan Perkembangan Lingkungan Strategis


Menjelang Pemilu 2009, para kader pemimpin atau calon pemimpin bangsa harus memperhatikan kecenderungan perkembangan lingkungan strategis. Lingkungan Strategis (baik pada tingkat global, regional maupun nasional) akan berpengaruh pada keseluruhan arah kebijakan politik luar negeri dan pertahanan nasional. Lingkungan strategis juga mempengaruhi pembangunan kemampuan diplomasi Indonesia, pembangunan kekuatan, serta kebijakan strategis yang akan diambil dan akan dioperasionalkan untuk menghadapi perubahan/dampak lingkungan strategis. Pemahaman atas lingkungan strategis ini sangat diperlukan untuk membangun postur pertahanan yang sesuai dengan perkembangan lingkungan strategis, sekaligus dihasilkan kebijakan pertahanan yang mampu mempertahankan dan memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia. Oleh karena itu kecenderungan perkembangan global, regional dan nasional perlu diperhatikan untuk pengkaderan kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan.

Pengaruh dari fenomena lingkungan strategis dapat digunakan untuk mencari peluang yang dapat dimanfaatkan dalam upaya pengkaderan kepemimpinan untuk mewujudkan pertahanan nasional. Di sisi lain, perlu dicermati pula kendala-kendala yang dapat menghambat upaya pengkaderan kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan. Kendala-kendala tersebut harus segera dieleminir agar tidak mengganggu proses pengkaderan kepemimpinan yang berwawasan kebangsaan. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Indonésie, Pertahanan, , , , , , , , , , , , , , , ,

Kekuatan Lain Ikut Dukung Kedaulatan Negara


Kedaulatan Negara Tidak Mungkin Dilaksanakan Hanya dengan Kekuatan Militer.

Pada Rakor Potensi Pertahanan (Pothan) membahas permasalahan tentang pemberdayaan sumber daya nasional untuk pertahanan negara melalui interaksi lintas sektoral atau instansi terkait dengan tujuan agar sumber daya nasional dapat dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan berlanjut untuk menegakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Menhan RI Juwono Sudarsono mengatakan, kedaulatan negara tidak mungkin dilaksanakan hanya semata – mata dengan kekuatan militer, tetapi harus dihadirkan juga dengan kegiatan – kegiatan sosial ekonomi di lapangan terutama di daerah – daerah perbatasan. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Indonésie, Opini, Pertahanan, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Wilayah Perbatasan


Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai 81.900 km, memiliki kawasan perbatasan dengan 10 negara, baik perbatasan kontinen maupun laut (maritim). Kawasan perbatasan kontinen Indonesia,  tersebar di tiga pulau (Kalimantan, Papua, Timor) yang masing-masing wilayahnya memiliki karakteristik berbeda. Pada kawasan perbatasan maritim, pada umumnya berupa pulau-pulau terluar yang jumlahnya 92 pulau termasuk pulau-pulau kecil, beberapa di antaranya mempunyai masalah dengan negara tetangga.

Sebagian besar kawasan perbatasan di Indonesia, masih merupakan kawasan tertinggal dengan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi yang masih sangat terbatas. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Indonésie, Opini, Pertahanan, , , , , , , , , , , , , , ,

Pertahanan Tri Matra


Kekuatan inti pertahanan terdiri atas tiga matra : matra darat, matra laut, dan matra udara. Kekuatan tri matra mempunyai kekhasan angkatan masing-masing, karena sifat dasar operasi dan doktrin yang berbeda. Oleh karena itu, strategi sistem pertahanan kita di masa depan harus mampu menyinergikan kekuatan tiga matra tersebut, disesuaikan dengan sifat dasar operasinya, kekhasan geopolitik, dan geostrategi Indonesia, serta anggaran pertahanan maupun kepentingan nasional. Dengan kata lain, menyinergikan kekuatan tiga matra adalah menggunakan kekuatan sifat-sifat dasar angkatan, yaitu sifat dasar operasi darat, sifat dasar operasi maritim, dan sifat dasar operasi udara. Bila dilihat bahwa organisasi ke tiga angkatan pada masa Orde Baru belum memunculkan kekhasannya karena diperlukan untuk kepentingan kebersamaan dan integrasi angkatan. Masalah integrasi angkatan hanya diwujudkan dalam tingkat operasional, yaitu pada pelaksanaan operasi gabungan dengan catatan bahwa angkatan tetap menampilkan kekhasannya masing- masing. Baca entri selengkapnya »

Filed under: Indonésie, Pertahanan, , , , , , , , , , , , ,

Halaman

Arsip

Mutiara

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

Tops Ten

Banner

banner cenya95

<a href="https://cenya95.wordpress.com"><img class="aligncenter size-full wp-image-2493" title="banner cenya95_2" src="https://cenya95.files.wordpress.com/2009/05/banner-cenya95_2.jpg" alt="banner cenya95" width="200" height="129" /></a>
banner cenya95
<a href="https://cenya95.wordpress.com"><img class="aligncenter size-full wp-image-2493" title="banner cenya95_1" src="https://cenya95.files.wordpress.com/2009/05/banner-cenya95_1.jpg" alt="banner cenya95" width="95" height="107" /></a>
<span>%d</span> blogger menyukai ini: